Sawah Pokok Murah ala Djoni untuk Kesejahteraan Petani

Pj Wali Kota Padang, Andree Algamar ikut panen padi di Padang-Pemkot Padang-ANTARA/HO

Setelah menemukan pupuk cikam yang organik, Djoni menggalakkan Tanam Benih Sebatang, yang juga mendapat sambutan luas. Banyak pemangkasan biaya yang bisa dilakukan untuk bercocok tanam padi sawah ini. Hasilnya di luar dugaan, produksi padi yang sebelumnya 4-5 ton gabah per hektare, meningkat menjadi 10-11 ton gabah per hektare.

Inovasi tiada henti, sepertinya sudah menjadi motto seorang Djoni. Setelah pensiun dengan golongan kepangkatan 4E, penerima Achievement Bidang Teknologi Pertanian Pangan tahun 2021 dari Universitas Andalas Padang ini membuat “Dangau Inspirasi” di rumahnya dengan luas lahan sekira 1,5 hektare, yang dikelilingi areal persawahan yang luas di Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

Tak henti-hentinya para petani dan kelompok tani, serta akademisi, wakil rakyat datang untuk bertanya tentang masalah di lapangan dan bagaimana solusinya. Tak lupa menanyakan apa temuan dan inovasi baru yang bisa dikembangkan.

Penemuan terakhir Djoni dua tahun lalu adalah teknik pengawetan cabai giling dalam kolam, yang tidak mengubah rasa dan warna walau direndam dalam kolam hingga selama 12 bulan. “Hasil penelitian tentang pengawetan cabai giling itu menjadi inspirasi mahasiswa calon doktor di Jepang,” katanya.

BACA JUGA:Efisiensi Anggaran, Distorsi, dan Prioritas Kebijakan

“Jika disimpan di kulkas hanya bisa dua bulan dan setelah itu bercendawan/jamur, maka sampel cabai giling yang sama disimpan dalam kolam bisa tahan dan awet hingga sampai 12 bulan. Banyak yang menamatkan pendidikan S-2 dan S-3 dengan penelitian cabai dalam kolam ini, baik di Jepang dan Indonesia,” jelas Djoni.

Djoni melakukan hal itu hanya sebagai solusi pada saat harga cabai murah. Dari pada cabai tidak dipanen dan membusuk, lebih baik dibuat cabai giling dan diawetkan dalam kolam dalam kondisi dibungkus plastik yang diberi pemberat agar terbenam.

Hasil penelitian itu pun sudah banyak yang mempraktikkan, kala harga cabai jatuh dan petani rugi. Dengan pengawetan cabai giling dalam kolam, kerugian petani bisa dihindari.

Kembali ke Sawah Pokok Murah. Gambaran Sawah Pokok Murah ini sebagai berikut. Usai panen, jerami dibiarkan melapuk dan tidak dibakar. Sawah bisa langsung diolah hanya dengan membuat saluran air dan tanahnya ditaruh di bedeng-bedeng. Penyemaian bibit untuk benih bisa langsung dilakukan. Ketika benih siap tanam dengan program benih sebatang, maka tak perlu waktu lama seperti proses pengolahan sawah pola membajak/mencangkul/merancah dan baru tanam.

BACA JUGA:Paradoks Efisiensi Anggaran di Era Kabinet Merah Putih

Ketika air tidak menggenangi pangkal tanaman padi, maka tanaman padi tak disentuh hama keong emas, hama penggerek batang, dan juga wereng. Di jerami laba-laba berkembang biak yang menjadi predator hama wereng. Siput tak mungkin hidup tanpa air. Sehingga kalau ada siput, ia hanya berada di saluran air saja.

“Hama tikus, hama putih, dan pianggang selama ini mengkhawatirkan, pun dengan metoda Sawah Pokok Murah bisa ditekan,” jelas Djoni, yang aktif mengembangkan Sawah Pokok Murah di Sumatera Barat, tahun 2022 sampai sekarang.

Penulis sempat mengecek langsung program SPM yang dipraktikkan oleh petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan, sekira 75 km selatan Kota Padang.

Seluas 100 hektare dari 200 hektare di Nagari Sungai Gayo Lumpo sudah mengembangkan SPM.

“Dari benih sebatang, berkembang rumpun padi menjadi 56 batang. Hama yang merusak tanaman padi pun berkurang drastis. Hasil panen bisa naik 100 persen bahkan lebih, sampai 200 persen,” kata ibu Darmini (75), petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan