Sawah Warisan Peradaban yang Tak Mudah Dibangun

Petani memanen padi di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya,, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (20/2/2025)--(ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom)
BACA JUGA:Prabowo Minta Kementan Percepat Program Cetak Sawah Seluas 3 Juta Hektare
Pada tanah sulfat masam misalnya, tanah yang mengandung pirit (FeS2) ketika kering dapat teroksidasi sehingga memicu terbentuknya asam sulfat yang membuat tanah sangat masam hingga di bawah pH 4.
Pada kondisi tergenang, pirit tersebut aman bagi tanaman. Ketika tanah sangat masam, maka akar tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk mencuci tanah yang masam hingga menjadi stabil dan nyaman bagi pertumbuhan padi.
Riset Nursyamsi dkk mengungkap bahwa umumnya sawah bukaan baru yang berasal dari lahan kering dapat berproduksi dengan baik setelah digunakan secara terus menerus setiap musim selama 5 tahun. Hal tersebut karena setelah 5 tahun lumpur dan lapisan bajak yang dibutuhkan oleh padi telah terbentuk stabil.
Di masa lalu pelumpuran dilakukan saat pengolahan tanah dengan bajak oleh kerbau atau sapi. Pada proses pembajakan tanah, hewan tersebut mengeluarkan kotoran serta mencampurkan sisa jerami ke dalam tanah yang menjadi sumber bahan organik tanah.
Di masa kini pelumpuran tersebut dilakukan saat pengolahan tanah dengan traktor. Proses stabilisasi lahan sawah membutuhkan bahan organik sehingga ketika pembajakan dengan traktor, maka bahan organik harus ditambahkan dari luar.
Bahan organik yang telah matang mampu mengikat senyawa beracun menjadi bentuk yang aman bagi tanaman. Proses untuk menjadi sawah yang stabil ini yang memakan waktu lama.
Pada sawah bukaan baru yang berasal dari lahan rawa sulfat masam, maka durasi sawah untuk menjadi stabil dengan produksi optimal membutuhkan waktu lebih panjang dari sawah bukaan baru asal lahan kering.
Pada sawah asal lahan rawa sulfat masam, proses yang panjang adalah proses mencuci pirit yang telah teroksidasi agar ke luar dari lahan. Proses pencucian tersebut terjadi saat hujan atau saat pasang besar dengan frekuensi yang berulang-ulang dalam kurun waktu bertahun-tahun, bahkan hingga 10 tahun.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa sawah di wilayah transmigrasi di lahan rawa sulfat masam baru dapat menghasilkan padi dengan baik setelah bertahun-tahun.
Kasus yang lebih sering lahan sawah malah berubah menjadi semak belukar lalu kemudian berganti menjadi lahan perkebunan seperti sawit atau karet yang lebih menguntungkan.
BACA JUGA:Ratusan Hektar Sawah di Beltim Terancam Gagal Panen, Petani Danau Nujau Minta Solusi
Kini Indonesia, menurut data terakhir pada 2024, memiliki luas sawah baku 7,38-juta ha. Sawah tersebut merupakan warisan para pendahulu yang harus dijaga karena membuka lahan sawah untuk berproduksi optimal tak semudah, semurah, dan secepat yang dibayangkan.
Satu hektare sawah baru dibuka hasilnya hanya 25-50 persen menjadi sawah produktif, sehingga jika hilang 1 ha sawah yang produktif, maka harus dibuka lahan dengan luasan 2-4 kali lipat dengan sejumlah input dan perbaikan teknologi yang mahal.
*) Dr. Destika Cahyana, SP, M.Sc,adalah Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN.