Sawah Warisan Peradaban yang Tak Mudah Dibangun

Petani memanen padi di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya,, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (20/2/2025)--(ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom)
Ketika itu, perluasan lahan untuk membuka sawah banyak dilakukan ke tanah-tanah marginal seperti Oxisols, Ultisols, Inceptisols berpirit, dan Histosols.
Musababnya, tanah yang baik seperti Vertisols, Andisols, Alfisols, dan sebagian besar Inceptisols sudah hampir habis karena menjadi sentra pertanian yang telah eksis atau bahkan sebaliknya telah beralih fungsi menjadi area non-pertanian dengan pemilik yang tidak berminat sama sekali untuk membuka lahan pertanian.
Pada lahan kering yang dirubah menjadi sawah, maka kendala awal dijumpai adalah produktivitas lahan rendah.
Hal itu karena perubahan kondisi dari kering menjadi basah membuat 1) konsentrasi kation-kation yang semula tidak bersifat racun, menjadi bersifat racun seperti Fe2+, dan Mn2+; 2) kekurangan Ca dan Mg; 3) K tercuci; 4) jerapan P, S, dan Mo, dan (5) pengaruh buruk dari H+, serta (6) hubungan tata air dan udara.
Keracunan besi umumnya terjadi pada tanah masam dengan kondisi tergenang seperti lahan sawah. Perubahan jumlah oksigen di dalam tanah yang menyebabkan besi yang semula berbentuk Fe3+ tereduksi menjadi besi dengan bentuk Fe2+ yang bersifat racun.
BACA JUGA:Cetak Sawah dan Optimasi Lahan, Strategi Kementan Wujudkan Swasembada Pangan
Perubahan bentuk yang semula aman menjadi racun itu mirip hidrogen dan oksigen dalam bentuk (H2O) yang aman bagi kulit manusia dengan feroksida (H2O2) yang berbahaya bagi kulit manusia. Meskipun sama-sama terdiri dari hidrogen dan oksigen, sifat kedua senyawa tersebut berbeda jauh.
Perubahan dari kondisi kering menjadi tergenang juga dapat menyebabkan unsur-unsur lainnya seperti Mangan dan Nitrogen berubah bentuk dari bentuk yang aman ke bentuk yang beracun.
Penggenangan juga merangsang terbentuknya senyawa beracun seperti karbon dioksida, metan, asam organik, dan hidrogen sulfida.
Hasil penelitian rumah kaca menunjukkan bahwa pada tanah Ultisols dari Tatakarya, Lampung, hara N, P, dan K menjadi faktor pembatas pertumbuhan tanaman padi sawah cetakan baru, sedangkan pada Inceptisols dari Muarabeliti, Sumatera Selatan, ketiga hara tersebut ditambah hara S.
Hasil riset juga menunjukkan pemberian pupuk kandang dan pengembalian jerami padi yang dikombinasikan dengan pupuk Nitrogen dan Fosfor secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan padi.
Sementara pada lahan rawa gambut atau lahan rawa mineral sulfat masam yang diubah menjadi sawah, proses sebaliknya yang terjadi. Lahan yang semula tergenang terus menerus atau periodik, diatur agar ketinggian airnya mengikuti kebutuhan pertumbuhan padi.
Sawah Baru
Pada saat pencetakan sawah, pengeringan sebagian tanah karena proses perataan dan pengangkatan tanah bagian bawah ke bagian atas saat membuat saluran tak dapat dihindari.
Pada situasi tersebut, tanah yang semula dalam kondisi basah (reduktif) berubah menjadi kondisi kering (oksidatif). Perubahan ini pada dapat merubah bentuk-bentuk senyawa yang semula stabil menjadi beracun.