Lika-liku Lenyapkan TB
Ilustrasi - Petugas kesehatan menunjukkan hasil rongtsen toraks paru saat pelaksanaan layanan keliling deteksi tuberkulosis (TBC) di UPT Pukesmas Belawan, Medan, Sumatera Utara, Jumat (1/12/2023)-Yudi/rwa/pri-ANTARA FOTO
Meski cikal bakalnya sudah ada sejak zaman purba, tuberkulosis (TB) masih bertahan sebagai salah satu pembunuh yang sangat signifikan di era modern.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pada 2023, 1,25 juta orang meninggal karena TB, dan 161 ribu di antaranya adalah orang dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV).
TB menjadi pembunuh paling mematikan bagi ODHIV, serta penyebab terbesar kematian yang kaitannya dengan resistensi antimikroba. Meski TB bisa dicegah dan diobati, ada 10,8 juta warga dunia sakit karena itu. Sekitar 6 juta penderitanya laki-laki, 3,6 juta perempuan, dan 1,3 juta penderitanya anak-anak.
Tak heran, mengakhiri TB menjadi salah satu Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang harus dicapai pada 2030, termasuk di Indonesia. Ini masuk sebagai target bidang kesehatan dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC/quick win) Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA:Memitigasi Risiko Keamanan AI Generatif
BACA JUGA:Mengatasi Defisit Akhlak Anak dengan Tradisi Bertutur
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Ina Agustina Isturini mengatakan, data per awal Maret 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 889 ribu atau 81 persen kasus telah terdeteksi dari target 1.092.000 penemuan kasus TB. Namun, meski penemuan kasus dan pengobatan terus naik dari tahun ke tahun, masih terbentang jalan panjang untuk eliminasi.
Pada 2025, targetnya adalah menurunkan insidensi sebesar 50 persen, sejalan dengan target global, sehingga menjadi 163 kasus per 100 ribu penduduk. Sedangkan saat ini, insidensi di Tanah Air adalah 388 per 100 ribu penduduk. Kemudian, diharapkan cakupan perawatan sebesar 90 persen, dan tingkat kesuksesan pengobatan 90 persen.
Mencegah lebih baik daripada mengobati
Untuk melawan penyakit purba itu, ada empat upaya besar yang dilakukan di Indonesia, yakni penemuan kasus, pencegahan, promosi kesehatan dan keterlibatan multisektor, serta pengobatan.
Ina menyebutkan dalam penemuan kasus, salah satunya adalah dengan menggunakan x-ray dalam penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), dan upaya penemuan kasus ini juga diintegrasikan dengan program quick win lainnya, yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kemudian pemberian insentif penemuan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), serta mengembangkan rumah sakit khusus pengembangan TB Resisten Obat.
Soal penemuan kasus, Pemerintah juga mengadakan skrining di tempat-tempat yang risiko penyebaran TB-nya tinggi, contohnya lembaga pemasyarakatan (lapas). Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, risiko penyebaran di lapas 10 kali lebih tinggi, mengingat tempat ini menampung banyak orang, dan terkadang melebihi kapasitas.
BACA JUGA:Dari Kemudi ke Cangkul, Menanam Harapan di Ladang Cabai
Berdasarkan hasil identifikasi provinsi, katanya, yang mencapai cakupan penanganan TB terbaik adalah Provinsi Banten, termasuk Kota Tangerang. Menurut laporan yang diterima, sekitar 80 persen warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang mengonsumsi obat pencegahan TB.
“Diharapkan berbagai program yang ada di Tangerang ini bisa direplikasi ke daerah lain, sehingga proses identifikasi TBC bisa optimal,” kata Dante.