Indonesia Malah Berlimpah Telur di Tengah Krisis Global, Apa Penyebabnya?

Peternak memanen telur ayam ras di peternakan ayam petelur di Wonokoyo, Malang, Jawa Timur--(ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU)
Peternak serta pelaku usaha unggas di berbagai daerah masih dapat mengakses bahan pakan dengan harga yang lebih terkendali dibandingkan negara lain yang bergantung pada impor jagung dan kedelai.
Selain itu, kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan terbukti efektif dalam menghindari lonjakan harga.
Momentum ini perlu dimanfaatkan dengan strategi yang tepat, agar Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan surplus telur, tetapi juga mampu bersaing di pasar global sebagai pemain utama dalam industri berbasis telur.
Di antara strategi utama yang dapat dilakukan adalah memperluas pasar ekspor. Data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat bahwa Indonesia telah mengekspor 38,36 juta butir telur ayam konsumsi ke Singapura sepanjang Januari hingga September 2024. Jumlah ini setara dengan 2,37 ribu ton atau bernilai 4,44 juta dolar AS dalam 118 kali pengiriman.
Capaian ini menunjukkan bahwa produk unggas Indonesia memiliki daya saing di pasar global. Ke depan, ekspansi ke pasar potensial lainnya, seperti negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang mengalami defisit pangan, perlu terus dijajaki untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir utama telur.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU), Ahmad Dawami, menyambut baik rencana ekspor telur ke Amerika Serikat yang diproyeksikan mencapai 1,6 juta butir per bulan.
BACA JUGA:Pemerintah Alokasikan Rp155,5 Triliun untuk Ketahanan Pangan 2025
Menurutnya, kapasitas produksi nasional sangat mencukupi, bahkan mampu menghasilkan hingga 160 juta butir telur per bulan tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
Selain ekspor telur segar, optimalisasi nilai tambah produk juga menjadi langkah strategis. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah industri tepung telur, yang memiliki permintaan tinggi baik di pasar domestik maupun internasional.
Tepung telur menjadi solusi praktis bagi industri makanan dan minuman yang membutuhkan telur dengan masa simpan lebih lama dan kemudahan dalam penggunaan.
Dengan mengembangkan industri ini, Indonesia tidak hanya berfokus pada ekspor telur segar, tetapi juga produk olahan bernilai tambah yang lebih kompetitif di pasar global.
Selain itu, diversifikasi produk berbasis telur, seperti protein isolate dari putih telur dan nutraceutical dari kuning telur, membuka peluang bisnis baru yang dapat mendukung kesejahteraan peternak lokal.
Ke depan, ketahanan industri unggas Indonesia juga perlu diperkuat melalui inovasi di sektor pakan untuk memastikan keberlanjutan produksi.
BACA JUGA:Rupiah Melemah, Pemerintah Optimistis Fundamental Ekonomi Masih Kokoh
Meskipun harga pakan di Indonesia lebih stabil dibandingkan negara lain, ketergantungan pada jagung dan kedelai impor masih menjadi tantangan utama. Karena itu, eksplorasi sumber pakan alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan perlu terus dikembangkan.