BACA JUGA:Embusan Angin Segar Bagi Peternak Sapi Perah
Melalui literasi digital yang kuat, Gen Z tidak hanya menjadi pemilih yang bijak, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan ruang demokrasi yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Gen Z yang kritis terhadap berbagai informasi akan lebih cermat dan hati-hati dalam menentukan pilihannya. Oleh karenanya, literasi digital menjadi penting sekaligus kunci bagi mereka sebagai agen perubahan dalam dinamika politik yang terus berubah dan berkembang.
Peran Gen Z dalam menyuarakan pendapat mereka di media sosial juga penting. Mereka perlu menggunakan media sosial untuk menyampaikan pemikirannya, bagaimana memilih diksi, dan merespons suatu isu menjadi faktor penting dalam mempengaruhi pandangan publik.
Jika Generasi Z menggunakan media sosial, mengampanyekan literasi digital yang positif tentang pemilu, akan mengarah pada yang lebih baik dan positif.
Jika mereka merespons pemilu dengan memberikan pandangan yang positif, hasilnya akan positif, dan sebaliknya, jika mereka menggunakan media sosial untuk hal negatif, hasilnya akan menimbulkan berbagai pertentangan.
BACA JUGA:Memperkuat Desa Wisata Jadi Pilar Ekonomi Pedesaan
Gary Xavier, seorang siswa yang pada Pilkada 27 November mendatang akan menggunakan hak pilihnya, menyampaikan pandangan bahwa Pilkada membawa harapan besar untuk memperbaiki tatanan dan memajukan pembangunan daerah di berbagai sektor.
"Saya cukup antusias dan tidak akan melewatkan pengalaman pertama saya sebagai warga negara untuk memilih kepala daerah secara langsung. Semoga yang terpilih nanti akan merangkul generasi muda sebagai potensi besar untuk membangun kota ini," kata siswa kelas XII itu.
Posisi Gen Z
Memilih atau tidak memilih adalah hak setiap individu. Namun, dalam konteks Pemilu 2024, suara Gen Z memiliki peran yang sangat penting.
Sebagai pemilih muda, termasuk pemilih pemula, generasi ini dapat menjadi kekuatan dominan dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Setiap suara berharga dan memiliki dampak signifikan saat bergabung dalam satu kesatuan.
Oleh karena itu, Gen Z diharapkan menggunakan hak pilih mereka dengan bijak dan penuh tanggung jawab, serta berkontribusi dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi yang mereka yakini.
BACA JUGA:Penerapan Transformasi Keamanan Digital Cegah Judi Daring
Untuk menggaet suara Gen Z dan meningkatkan persentase kehadiran di tempat pemungutan suara (TPS), pemerintah, khususnya Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispedukcapil) di berbagai daerah terus memacu perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), khususnya warga yang berusia 17 tahun pada saat penyelenggaraan Pilkada.
Dispendukcapil diberbagai daerah getol mengampanyekan perekaman e-KTP tersebut, bahkan jemput bola ke sekolah-sekolah untuk menyisir siswa yang genap berusia 17 tahun atau lebih untuk masuk daftar pemilih tetap (DPT) dan menyalurkan hak suara politiknya pada hari pencoblosan di TPS.