Berburu Baju Lebaran di Pasar Tanah Abang: Sensasi Belanja Langsung yang Tak Tergantikan

Sejumlah warga yang berburu baju lebaran di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Rabu (26/3/2025)--(ANTARA/Khaerul Izan)

Jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang Semakin Ramai

Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas jual beli di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara ini selalu mengalami lonjakan. Setiap tahunnya, momen Lebaran menjadi waktu emas bagi para pedagang di Pasar Tanah Abang untuk meraup keuntungan.

Keramaian khas Tanah Abang biasanya mencapai puncaknya di periode tertentu, seperti menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Pada saat-saat inilah hiruk-pikuk pasar semakin terasa, menampilkan wajah khas Tanah Abang yang sibuk dan dinamis.

Pengelola Pasar Tanah Abang Blok A, Heri Supriyatna, menyebutkan bahwa jumlah pengunjung menjelang Lebaran 2025 masih relatif sama dengan tahun sebelumnya.

Data tersebut diperoleh berdasarkan jumlah kendaraan yang memasuki area parkir pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu.

Sementara itu, Boy, salah satu pedagang di Blok B, mengaku bahwa aktivitas jual beli tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan hingga lima hari sebelum Lebaran, stok pakaian di empat tokonya masih belum terjual habis seperti yang biasa terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Jika tahun lalu, lima hari menjelang Lebaran 2024, para pembeli nyaris tak punya pilihan karena stok pakaian sudah ludes terjual, tahun ini kondisinya berbeda.

BACA JUGA:Premanisme Ormas Hambat Bisnis, Pemerintah Desak Tindakan Tegas

Omzet yang sebelumnya bisa menembus Rp1 miliar dalam sebulan untuk satu toko, kini merosot drastis hanya sekitar Rp600 juta. "Tahun lalu saya bisa menjual hingga 18.000 potong pakaian, sekarang setengahnya saja belum habis," ujar Boy seperti dilansir dari Antara.

Para pedagang di Pasar Tanah Abang menyadari bahwa penjualan tekstil tidak selalu stabil. Ada masa-masa di mana permintaan melonjak tinggi, dan ada pula saat-saat sepi pembeli.

Daya Beli Masyarakat Melemah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa awal 2025 menjadi momen langka bagi Indonesia dengan terjadinya deflasi tahunan (y-o-y) untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir.

Menurut BPS, deflasi ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk diskon tarif listrik yang menyumbang hingga 2,16 persen, serta penurunan harga bahan pokok seperti beras, tomat, dan cabai merah yang berkontribusi sebesar 0,11 persen.

Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Anton Agus Setyawan, menjelaskan bahwa deflasi ini erat kaitannya dengan penurunan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut tentu berdampak pada berbagai sektor ekonomi di Indonesia, termasuk industri ritel dan perdagangan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan