Dari Sampah Jadi Berkah: Masyarakat Manado Sulap Plastik Jadi Produk Bernilai

Koordinator Tim MMRC Novita Sikome, menunjukkan panel atap hasil daur ulang sampah plastik kepada Ketua Umum LSM Manengkel Solidaritas Sella Runtolalo (tengah) dan Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado Lieke Kemb--(ANTARA/Jorie Darondo)
Setelah melalui proses pemanasan dan pemadatan, sampah plastik yang telah dipres diangkat dan diletakkan di atas tatakan seng untuk membentuk panel atap. Panel ini bisa dibuat dalam bentuk gelombang atau rata, sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu, jenis plastik yang perlu dicacah terlebih dahulu diproses menggunakan mesin pencacah. Hasil cacahan kemudian diletakkan di atas plastik transparan sebagai dasar, lalu dipres kembali hingga membentuk panel atap yang siap digunakan.
Untuk pembuatan tempat sampah, panel-panel yang sudah jadi dipotong sesuai ukuran yang diinginkan—baik besar, sedang, maupun kecil. Setelah dipotong, panel tersebut kembali dipanaskan dan dibentuk menjadi berbagai model, seperti berbentuk bulat atau kotak.
Untuk membuat keranjang atau kotak sampah, diperlukan dua panel dengan bahan baku sekitar tiga kilogram sampah plastik. "Kami terus berinovasi dan berkreasi untuk menciptakan produk lain dari hasil daur ulang ini," ujar Novita.
Dalam proses daur ulang, MMRC memberdayakan warga sekitar, termasuk ibu rumah tangga dan para pemuda. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan ibu-ibu pengepul sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Melalui koordinator, sampah-sampah tersebut dikumpulkan dan dibawa ke MMRC untuk dibeli dengan harga bervariasi.
"Harga sampah plastik biasa sekitar Rp2.000 per kilogram, sedangkan untuk sampah yang sudah bersih dan siap produksi, harganya Rp3.000 per kilogram," tambahnya.
BACA JUGA:Masuk Zona Merah, DLH Belitung Ubah Sistem Pengolahan Sampah
Berawal dari Keprihatinan
Ketua Umum LSM Manengkel Solidaritas, Sella Runtolalo, yang juga menjadi pembina MMRC, mengungkapkan bahwa kegiatan daur ulang ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi sampah di TPA Sumompo yang semakin menggunung. Di sisi lain, banyak warga di sekitar TPA yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit, padahal sampah tersebut bisa dimanfaatkan dalam sistem ekonomi sirkular.
Menanggapi situasi ini, LSM Manengkel berupaya menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar TPA sekaligus mengurangi limbah plastik yang tidak memiliki nilai jual, dengan mengolahnya menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi.
Pada Desember 2024, upaya ini mendapat dukungan dari program Waste Free 23 asal Amerika Serikat, yang membantu menjalankan kegiatan daur ulang sampah plastik yang sebelumnya sulit terjual.
Dalam kegiatan ini, berbagai jenis sampah plastik seperti tas kresek, kemasan plastik, dan sejenisnya didaur ulang menjadi panel atap serta keranjang atau tempat sampah. Produk hasil daur ulang tersebut kemudian didistribusikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.
Tempat sampah disalurkan ke sekolah-sekolah, kios, dan warung di sekitar lokasi, sementara panel atap digunakan untuk membantu keluarga kurang mampu serta perbaikan atap di Minahasa Selatan.
Namun, berdasarkan evaluasi yang dilakukan, kapasitas mesin yang tersedia belum sebanding dengan jumlah sampah yang masuk, sehingga produksi berjalan cukup lambat.
Oleh karena itu, dukungan dari pihak-pihak dengan visi yang sama sangat diperlukan untuk menambah mesin pres, agar proses daur ulang dapat berjalan lebih optimal dan menghasilkan produk seperti panel atap dan tempat sampah dengan desain yang lebih estetik.