Psikolog Sebut Puasa Ramadhan Jadi Latihan Efektif Mengontrol Emosi

Ilustrasi - Umat Islam melaksanakan shalat malam saat beriktikaf di malam bulan Ramadhan. Menurut psikolog klinis, ibadah di bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk melatih mengontrol emosi-Novrian Arbi-ANTARA

BELITONGEKSPRES.COM - Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melatih kendali emosi dan meningkatkan kesadaran diri. Psikolog klinis dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, Rani Meita Pratiwi, menegaskan bahwa aspek psikologis dalam berpuasa dapat membantu seseorang membentuk kebiasaan baru dalam mengelola emosi.

"Ramadhan memberikan ruang untuk refleksi dan kontrol diri, tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga mental dan emosional," ujar Rani di Samarinda, Kamis.

Ia mengacu pada teori Psycho-Cybernetics yang menyatakan bahwa kebiasaan baru terbentuk dalam kurun waktu sekitar 21 hari. Dengan menjalankan puasa dengan kesadaran penuh selama 10 hari pertama, seseorang memiliki peluang besar untuk membentuk pola pengendalian emosi yang lebih baik hingga akhir bulan Ramadhan dan seterusnya.

Menurutnya, mengendalikan emosi bukan berarti menekan atau mengabaikan perasaan, tetapi lebih kepada mengelola respons terhadapnya. "Menahan amarah atau kesedihan selama berpuasa bukan berarti menghilangkannya, tetapi lebih kepada memilih cara yang lebih bijak untuk meresponsnya," tambahnya.

BACA JUGA:Hanura Bagikan Ribuan Paket Sembako untuk Ojol dan Warga Jelang Lebaran

BACA JUGA:Bandara Soekarno-Hatta Catat 1.113 Penerbangan di H-4 Lebaran, Terminal 3 Paling Padat

Misalnya, jika seseorang merasa tersinggung atau marah saat berpuasa, alih-alih melampiaskan emosi secara impulsif, ia bisa mengambil jeda untuk berpikir sebelum bereaksi. Sikap ini tidak hanya menjaga pahala puasa tetapi juga melatih kecerdasan emosional seseorang.

Rani juga menegaskan bahwa emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia yang mencerminkan respons terhadap berbagai situasi. Ia mengingatkan bahwa salah satu tanda keseimbangan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengelola perasaan mereka secara sehat.

"Emosi bukan sekadar amarah, tetapi mencakup rasa bahagia, sedih, takut, hingga jijik. Yang perlu diperhatikan bukan keberadaan emosi itu sendiri, tetapi bagaimana kita meresponsnya," jelasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa latihan mengelola emosi selama Ramadhan seharusnya menjadi pembelajaran jangka panjang, bukan hanya berlangsung dalam satu bulan. Jika dilakukan dengan konsisten, pengendalian emosi yang terlatih selama Ramadhan dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari keseharian seseorang.

"Dengan memahami dan mengelola emosi secara sehat, kita tidak hanya mendapatkan manfaat spiritual dari ibadah puasa, tetapi juga meningkatkan kualitas hubungan sosial dan kesejahteraan mental dalam kehidupan sehari-hari," tutupnya. (antara)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan