Pakar Menilai Tata Kelola dan Manajemen Risiko jadi Tantangan Danantara

Sejumlah karyawan keluar dari Gedung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta, Jumat (7/2/2025)-Reno Esnir/app/YU/am-ANTARA FOTO

BELITONGEKSPRES.COM - Profesor Budi Frensidy, pakar pasar modal dari Universitas Indonesia, menyoroti tantangan besar yang dihadapi Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam hal tata kelola, pengawasan, dan manajemen risiko. 

Menurutnya, jika dikelola secara profesional, kompeten, dan transparan, Danantara berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan memberikan keuntungan signifikan bagi para pemegang saham.

Budi menegaskan bahwa pengelolaan BPI Danantara seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada para profesional yang berintegritas tinggi dan bebas dari kepentingan politik atau kelompok tertentu. Ia juga mengingatkan adanya potensi dampak positif maupun negatif dari keberadaan lembaga ini.

Rencananya, Danantara akan diluncurkan pada 24 Februari 2025, seperti yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini diperkirakan mengelola aset lebih dari 900 miliar dolar AS, yang akan diinvestasikan dalam proyek-proyek berkelanjutan, termasuk energi terbarukan, manufaktur canggih, industri hilir, dan produksi pangan.

BACA JUGA:Dorong Tembus Pasar Ekspor, Mendag Ajak UMKM Manfaatkan AI

BACA JUGA:Jelang Ramadhan 2025, Pemerintah Akan Gelar Operasi Pasar Murah Nasional pada 24 Februari

Pembentukan Danantara didasari oleh revisi terbaru Undang-Undang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN), yang disahkan dalam rapat paripurna ke-12 pada 4 Februari 2025. Revisi ini bertujuan memperkuat peran BUMN dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional. (antara)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan