Belajar Sejarah Negara di Asia untuk Antisipasi Dampak #KaburAjaDulu

Ilustrasi - Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan membekali para calon pekerja migran Indonesia yang akan bekerja ke luar negeri-Kutnadi-ANTARA

Pada awalnya, lembaga ini juga menarik para pakar asing, tetapi kemudian fokusnya beralih ke para cendekiawan dan profesional kelahiran China. Hasilnya, pada tahun 2017, telah ada lebih dari 7.000 ilmuwan dan insinyur papan atas yang kembali untuk memperkuat penelitian dan pengembangan serta ainovasi China.

BACA JUGA:Paradoks Efisiensi Anggaran di Era Kabinet Merah Putih

Banyak peserta TTP bekerja di bidang AI, bioteknologi, komputasi kuantum, dan penelitian semikonduktor. Terdapat pula peneliti AI China (yang sebelumnya bekerja di beragam perusahaan seperti Google, Microsoft, dan MIT) kembali memimpin ledakan AI di negara tersebut dan membantu perusahaan seperti Huawei, Alibaba, dan Tencent bersaing secara global dalam AI, 5G, dan komputasi awan.

TTP juga dinilai mengembangkan industri semikonduktor dengan berfokus kepada strategi kemandirian cip China untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS. Banyak ahli yang bekerja di SMIC (produsen cip terkemuka di China) serta laboratorium penelitian dan pengembangan semikonduktor nasional adalah rekrutan TTP.

Dengan belajar dari banyak contoh tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa cara untuk mengantisipasi brain drain adalah adanya inisiatif yang dipimpin pemerintah dengan sumber pendanaan kuat serta menciptakan peluang lapangan kerja yang sangat berkualitas untuk menarik pekerja terampil yang bekerja di luar negeri agar kembali.

Agar para pekerja yang memiliki keahlian memiliki keinginan untuk kembali dapat dengan berbagai cara antara lain dengan menggunakan insentif seperti gaji tinggi, pendanaan riset dan infrastruktur memadai. Selain itu, perlu adanya fokus kepada industri berteknologi tinggi dan berbasis sains-inovasi, yang merupakan bidang yang dapat disebut paling terkena dampak dari brain drain di suatu negara.

BACA JUGA:'Entrepreneurial Spirit' dan Demokrasi Ekonomi

Tidak lupa pula perlu adanya kolaborasi yang terintegrasi dengan universitas terkemuka untuk melatih dan memasok talenta bagi sektor industri dan pemerintahan. Hal ini karena setiap program yang terkait dengan hal ini, mau tidak mau suka tidak suka, harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah, sebagai upaya untuk menunjukkan komitmen nasional yang kuat dalam berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia berkualitas.

Bila semua hal itu telah dapat berjalan dengan lancar, maka buah kesuksesannya adalah mengantisipasi brain drain yang merupakan salah satu dampak dari banyaknya orang yang menerapkan tren #KaburAjaDulu yang saat ini tengah hangat di tengah masyarakat Indonesia. (antara)

Oleh: M Razi Rahman

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan