Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Senyum Ceria Petani Lada Hitam Lampung

Petani lada di Kabupaten Tanggamus, Lampung-/HO-GIZ-ANTARA

Permasalahan yang dihadapi usaha tani lada di Indonesia cukup klasik, terutama rendahnya produktivitas lada (kurang dari 1 ton/ha), besarnya kehilangan hasil karena hama dan penyakit, serta pendapatan yang tidak menentu karena harga lada yang sangat fluktuatif (Soetopo, 2012; Rosman, 2016), sehingga mengakibatkan turunnya produksi dan nilai ekspor (Yuhono, 2007). 

Tanaman lada merupakan salah satu komoditas pertanian yang ada di Nusantara, dan salah satunya terdapat di Provinsi Lampung. Pada tahun 1653, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penduduk Lampung untuk menanam pohon lada sebanyak 500 pohon per orang. Bahkan, supaya ada tata niaga tanaman lada, penguasa dari Banten menempatkan beberapa orang untuk mengawasi jual beli lada.

Pada zaman dahulu, daerah penghasil lada utama di Lampung adalah Tulang Bawang, Sekampung, dan Seputih. Hingga akhirnya, banyak masyarakat yang tertarik menanam tanaman lada, selain karena perawatan yang cukup mudah, juga karena harga lada yang menggiurkan. Pada bulan Agustus 2022, harga lada pernah mencapai Rp46.800 per kilogram. Bahkan, pada masa panen raya lada hitam di Agustus 2024, harganya mencapai Rp90.000 per kilogram.

BACA JUGA:Menantikan Kejutan Luis Enrique Lagi

Menanam lada membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun. Waktu panen tergantung pada jenis lada yang ditanam dan kondisi lingkungan tempat tanamnya. Lada biasanya dipanen ketika buahnya sudah berwarna merah kehitaman. Tanaman lada cocok ditanam di daerah yang memiliki ketinggian antara 0-700 meter di atas permukaan laut, suhu udara antara 25-32 derajat celsius, curah hujan yang cukup, serta tanah yang gembur dan subur.

Namun saat ini, banyak petani yang beralih dari menanam lada ke komoditas lain, padahal dengan harga lada yang tinggi, dapat meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat.  

Pernah berjaya

Belakangan, Provinsi Lampung dengan didukung berbagai pihak telah mampu mengekspor lada hitam ke pasar internasional melalui Vietnam  Ini sebuah harapan baru sebagai bagian dari cita-cita bersama untuk mengembalikan kejayaan lada hitam Lampung yang ada  sebelumnya.

Namun seiring berjalannya waktu, Penjabat Gubernur Lampung Samsudin  menyatakan, provinsi itu terancam kehilangan ikon sebagai tanah lada akibat tingkat produktivitas lada serta luasan areal tanam lada yang terus turun. Oleh karena itu, dia mengajak bersama-sama menjaga dan mengelola tanaman lada untuk mengembalikan kejayaan lada Lampung.

Lada hitam Lampung pernah sangat terkenal. Namun beberapa waktu lalu agak tenggelam, antara lain karena penyakit busuk pangkal batang. Karena itu, saat ini sedang diujicobakan penggunaan batang bawah tanaman lada yang tahan terhadap jamur Phytophthora. Selain itu, perlu peran pemerintah bersama pihak swasta dan petani untuk bersama-sama menanggulanginya secara efektif.

Dalam suatu pertemuan, Ketua Komunitas Usaha Bersama (KUB) Koperasi Berkah Jaya Lestari Ihsanudin membeberkan capaian produksi lada hitam hasil petani setempat yang pertama kalinya telah dibeli oleh PT MAUP untuk diekspor ke Vietnam.

Kontribusi para petani lada di Air Naningan cukup besar dari sebanyak seluruhnya 63 kontainer atau 945 metrik ton (MT). Dari total pembelian sebanyak 959 metrik ton, sebanyak 61,2 persen berasal dari Kabupaten Tanggamus; 7,00 persen dari Kabupaten Lampung Barat; Pesisir Barat 0,59 persen; Lampung Tengah 6,66 persen; Lampung Timur 18,39 persen, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan Sumatera Selatan 5,32 persen; dan Provinsi Bengkulu 0,22 persen. Data ini menunjukkan bahwa Kabupaten Tanggamus di Provinsi Lampung berpotensi memiliki sumber komoditas lada terbesar.

BACA JUGA:Insentif Pajak untuk Stabilitas Ketenagakerjaan Sektor Padat Karya

Karenanya, Ihsanudin mengajak para petani lada setempat untuk terus meningkatkan kualitas hasil panen lada mereka, agar memenuhi standar pembelian perusahaan untuk diekspor, sehingga mendapatkan harga yang lebih tinggi demi kesejahteraan mereka. "Kita sama-sama berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Bagaimana caranya kita bisa mencapai target memproduksi lada hitam yang berkualitas, dan nantinya juga memenuhi standar budi daya lada organik," kata dia.

Senyum ceria merekah dari umumnya para petani lada di Air Naningan tersebut. Mereka kebanyakan mengaku mendapatkan harga pembelian yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka juga merasakan prosedur dan proses serta pembayaran lada yang dibeli dengan lebih transparan, merasa lebih nyaman dan aman.

Muhammad Zaini atau akrab disapa Jay (33), salah satu petani muda peserta Progam Lada Lestari Lampung di Air Naningan mengaku, mampu menjual ratusan kilogram lada hitam sesuai standar ekspor, dengan harga beli minimal Rp85.000 per kg.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan