Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Senyum Ceria Petani Lada Hitam Lampung

Petani lada di Kabupaten Tanggamus, Lampung-/HO-GIZ-ANTARA

Harlin  pernah memanen lada hingga mencapai 7-8 ton dalam satu kali musim panen, sehingga harus meminta izin kepada tetangga dan warga sekitar rumahnya untuk menggunakan sebagian areal setempat untuk menjemur lada tersebut. Pelataran rumahnya tak lagi mencukupi untuk menjemur lada sebanyak itu.

Dia menceritakan pula, pernah mengalami kejadian tanaman ladanya banyak yang mati kuning karena terkena penyakit busuk pangkal batang, disebabkan cuaca banyak hujan saat itu. Kondisi cuaca selama sekitar tiga tahunan berturut-turut, menurutnya, juga kurang baik, mengingat saat panen lada, terjadi banyak hujan dan jarang panas matahari. Karena itu, dengan bantuan dinas terkait, petani setempat telah mulai menerapkan budi daya lada sambung pucuk. Sekarang, lada hasil sambung pucuk telah mulai berbuah.

Ia menyebutkan, saat produktivitas tanaman ladanya tinggi, dalam satu batang bisa memanen hingga satu karung lada basah berukuran karung isi 30 kg. Satu kuintal lada basah, saat dikeringkan secara optimal bisa menjadi 30 kg lada kering siap jual. Dalam satu hektare, bisa menghasilkan lada hingga 1,5 ton.

BACA JUGA:Sinyal Kuat dari Pemilu Australia dan Kanada: Trumpisme Kian Dijauhi?

Namun sekarang tanaman lada berusia tua yang dimilikinya paling tinggi dalam satu hektare hanya mampu menghasilkan hingga 3 kuintal saja. Produktivitasnya semakin menurun, antara lain karena buah ladanya ompong atau kurang nutrisi. Penyebabnya, antara lain terutama faktor cuaca yang kurang mendukung bagi peningkatan produktivitas tanaman lada, pemberian pupuk kurang, dan perawatan yang kurang baik.

Umumnya tanaman lada muda mulai berbuah pada umur tanam tiga tahun, dan bila dirawat dengan baik dapat terus produktif sepanjang 25 tahunan. Namun bila kurang perawatan dan petani pemilik kebun ladanya "jorok", tanaman ladanya bisa mudah terserang hama penyakit sehingga lebih cepat tidak produktif, kemudian tak lama mati.

Ihsanudin juga menyatakan dukungan adanya Program Lada Lampung Lestari selama ini telah memberikan panduan, bimbingan dan pembinaan serta pendampingan kepada para petani lada anggotanya, baik dari aspek budi daya, perawatan, hingga pascapanen dan pemasarannya. Para petani pun optimis berpeluang besar menghasilkan lada berkualitas dengan harga tinggi.

Apalagi, umumnya petani lada di Air Naningan merasakan, dalam tiga tahun terakhir, kondisi cuaca yang sudah berubah  sehingga menjadikan budi daya dan perawatan tanaman lada perlu perhatian lebih ekstra. Cuaca yang kurang mendukung seperti sebelumnya, mengharuskan mereka mulai menerapkan pola budi daya yang lebih baik lagi, untuk mengantisipasi perubahan iklim dan kondisi cuaca seperti saat ini dan ke depannya lagi.

Karena itu, berbagai panduan, bimbingan dan pembinaan serta pendampingan dalam Program Lada Lestari Lampung dapat menjawab kondisi ini.

BACA JUGA:Provinsi Baru, Langkah Strategis Jaga Kedaulatan di Perbatasan Natuna

Salah satu antisipasi budi daya yang diaplikasikan adalah Program Solarisasi Tanah  untuk menekan penyebaran dan penularan penyakit utama tanaman lada berupa busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici. Solarisasi tanah merupakan metode ramah lingkungan dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman menggunakan sinar matahari untuk meningkatkan suhu tanah.

Selain itu, pemerintah melalui Dinas Perkebunan untuk mengantisipasi serangan penyakit busuk pangkal batang, mendorong petani lada menerapkan budi daya sambung pucuk (malada). Itu merupakan alternatif memperkuat pangkal batang tanaman lada, agar lebih kuat menghadapi serangan busuk pangkal batang itu.

Namun petani di Air Naningan berharap metode sambung pucuk ini dapat dikaji dan diteliti lebih lanjut, sehingga pada akhirnya tidak merugikan petani untuk memberikan jaminan hasil panen dengan produktivitas tinggi serta kualitas lada yang memenuhi standar untuk ekspor. Jangan sampai terhindar dari penyakit busuk pangkal batang, tapi hasil panen kualitasnya tidak memenuhi standar pasar ekspor.

Para petani lada di Air Naningan mengeluhkan pula keterbatasan tenaga kerja untuk membersihkan tanaman lada, karena bila dibiarkan saja tanpa perawatan dikhawatirkan panennya kurang maksimal. Padahal upah tenaga kerja, termasuk untuk memanen lada di sini berkisar Rp3.000 untuk setiap kilogram lada yang dipanen, ditambah dengan makan dan rokoknya.

Budi daya lada bagi umumnya petani di sini sudah mendarah daging dan dilakukan turun temurun oleh nenek moyang mereka yang diteruskan hingga sekarang. Beberapa petani senior maupun petani muda di sini mengaku cinta mati pada komoditas lada, sehingga apa pun yang terjadi pada tanaman ini, bertekad akan terus membudidayakannya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan