Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Senyum Ceria Petani Lada Hitam Lampung

Petani lada di Kabupaten Tanggamus, Lampung-/HO-GIZ-ANTARA

Kesetiaan sebagian besar petani di sini untuk terus membudidayakan tanaman lada telah teruji. Mereka tak bergeming ke komoditas perkebunan lain, walaupun terjadi pasang surut harga dan ancaman penyakit mematikan dialami tanaman lada mereka. Kendati masih ada tanaman kopi maupun jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya, mereka menyatakan masih tetap akan bertahan membudidayakan lada itu.

Ihsanudin bersama petani anggotanya berharap, KUB atau koperasi yang ada dapat mewakili petani untuk melakukan pembelian secara kolektif bagi para anggotanya, sehingga PT MAUP tidak lagi perlu langsung terlibat dalam pembelian di lapangan.

BACA JUGA: Kebijakan Prabowo & Titik Terang Kesejahteraan Buruh Indonesia

"Untuk panen ke depan, petani di sini berharap peranan Koperasi BJL yang ada bisa lebih efektif menjalankan fungsinya, sehingga perlu ditata menjadi lebih baik lagi, termasuk dilakukan penguatan pada KUB-nya," kata Ihsanudin. Namun untuk mengekspornya, sesuai dengan kesepakatan, mereka tetap perlu bermitra dengan PT MAUP untuk melakukannya.

Atasi permasalahan

Di balik sejumlah manfaat dan dampak positif Program/Proyek Lada Lestari Lampung, tentu saja masih terselip sejumlah permasalahan yang dialami para petani lada itu, baik dari aspek budi daya, pascapanen maupun saat pembelian lada yang telah berjalan.

Semua permasalahan yang masih ada itu tetap perlu dilakukan evaluasi dan dicarikan solusi terbaiknya, seperti dukungan transportasi/pengangkutan lada dari kebun/rumah petani ke gudang atau ke perusahaan secara memadai sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan konsumen.

Transportasi yang tersedia juga harus bisa menyesuaikan dengan kondisi geografis dan infrastruktur jalan/jembatan di wilayah tersebut, dengan memperhitungkan daya angkut kendaraan, daya tampung di gudang yang tersedia, dan kesiapan sarana pencatatan maupun pengecekannya di laboratorium.

Targetnya tak ada lagi lada hasil panen yang diangkut sampai menginap di gudang, atau daya tampung gudang tak mampu menyimpan lada yang dikumpulkan dari para petani setempat.

BACA JUGA:Hari Buruh 2025: Ketika Jurnalis Juga Harus Mengucap Selamat Tinggal

Mereka juga berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, bersama pihak perusahaan untuk bisa membenahi kondisi infrastruktur jalan ke desa-desa mereka, sehingga mengurangi risiko medan yang berat saat mengangkut lada maupun hasil pertanian dan perkebunan dari dalam desa mereka. Jalan-jalan yang rusak parah diminta segera diperbaiki, sehingga transportasi hasil panen petani di sini menjadi lancar dibawa ke luar untuk dijual.

Mereka menyatakan jika hasil pertanian dan perkebunan lancar dibawa keluar untuk dijual, atau para pembeli datang langsung ke desa mereka, sehingga memberikan peluang peningkatan penghasilan dan pendapatan serta kesejahteraan petani maupun warga setempat.

Sekarang saja, setelah merasakan adanya pembelian lada hitam oleh perusahaan, dengan harga sesuai standar kualitasnya, umumnya petani di Air Naningan mengaku puas mendapatkan hasil seperti diharapkan. Kenyataan ini bahkan sempat membuat cemburu para petani lain termasuk tetangga kampung mereka yang belum masuk menjadi anggota dan ikut dalam Program Lada Lestari Lampung.

Sejumlah petani lada di Air Naningan itu pun ada yang menyimpan hasil penjualan lada mereka untuk ditabung, sehingga dapat digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka ke depan, termasuk persiapan biaya pendidikan anak-anak mereka.

Sebagian lagi menyiapkannya untuk membeli lahan baru yang dapat ditanami lada serta tanaman produktif penyela lainnya. Beberapa petani mengaku segera membeli lahan untuk membangun rumah baru mereka, bahkan ada yang sudah menyiapkan lahan untuk membangun rumah baru itu.

Sejumlah petani lada setempat juga mengaku sudah menyiapkan dana hasil penjualan untuk memperbaiki atau merenovasi rumah mereka, sehingga menjadi lebih nyaman untuk ditinggali bersama keluarganya. Ada beberapa petani yang juga telah menabung uang hasil penjualan lada mereka, untuk menyiapkan diri berangkat menunaikan ibadah umrah bersama keluarga masing-masing. Sekaligus ada pula yang sudah bersiap mendaftarkan diri bersama keluarga inti untuk menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan