Menantikan Kejutan Luis Enrique Lagi
Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique memberikan instruksi di pinggir lapangan saat menghadapi Arsenal pada pertandingan leg kedua babak semifinal Liga Champions di Parc des Princes, Paris, Kamis (08/05/2025)-FRANCK FIFE-ANTARA/AFP
Pada 19 Mei 2014, ketika Andoni Zubizarreta merekomendasikan nama Luis Enrique kepada manajemen Barcelona, publik skeptis terhadap pria asal Spanyol tersebut.
Wajar publik sepak bola skeptis kepada Luis Enrique, yang tiba ke Camp Nou dengan segala persoalan yang begitu banyak harus segera ditangani.
Menyatukan pemain-pemain Blaugrana yang bertabur bintang seperti Lionel Messi, Neymar, Luis Suarez, Andres Iniesta, hingga Ivan Rakitic dalam satu tim bukanlah hal yang mudah.
Terlebih Luis Enrique tak mempunyai profil mentereng sebagai pelatih yang pernah menangani klub besar.
Kala itu, Enrique mempunyai riwayat kepelatihan sebagai arsitek AS Roma lalu hengkang ke Celta Vigo.
BACA JUGA:Belajar dari Media China: Transformasi dan Dominasi Digital
Pundak Enrique pun kian berat, pasalnya El Barca dalam misi dendam kesumat untuk bisa mengangkat trofi Liga Champions seusai pada musim 2014, sang rival abadi mereka Real Madrid baru memenangkannya.
Namun, publik tidak tahu bahwa pria kelahiran Gijon pada 8 Mei 1970 lalu telah mempunyai formula yang membawa Barcelona kembali digdaya seperti di era Joseph "Pep" Guardiola.
Sebagai mantan pemain yang berposisi gelandang dan pernah memperkuat dua klub besar Real Madrid dan Barcelona, Enrique sadar peran penting di ruang ganti.
Ia adalah sosok keras dan ekspresif di pinggir lapangan, memberikan instruksi berapi-api seperti pelatih Jose Mourinho.
Enrique punya gaya kepelatihan tersendiri. Ia sosok pelatih yang memperhatikan detail-detail kecil yang diperlukan.
Di tangan Enrique, Barcelona bermain lebih dinamis dengan mengandalkan transisi cepat lewat formasi 4-3-3 dengan trio lini serang Messi, Suarez, dan Neymar.
BACA JUGA:Insentif Pajak untuk Stabilitas Ketenagakerjaan Sektor Padat Karya
Keganasan formula Enrique dibuktikan dengan Barcelona yang mengamankan treble yakni meraih Liga Champions, LaLiga, dan Copa del Rey pada musim 2014-2015. Sekaligus menjadikan misi utama Enrique yang ditugaskan untuk menyingkirkan dominasi Real Madrid berhasil.