Ira gagal mendapat suara terbanyak. Dia di urutan 2, dan jadi wakil ketua OSIS. Dan, tahukah penyebabnya? Ya, antara lain karena saya, yang saat itu naif, merasa Ira saingan, tidak memilih dia. Saya bahkan berkampanye againts her. Maafkan ya Ir..
Tapi, itulah Ira yang harus saya akui, saat itu sudah lebih dewasa dari saya. Hal itu tidak menjadikan kita bermusuhan. Kita masih sering berdebat, tapi bukan berarti tidak bersahabat.
Saat sama-sama kelas 3 dan tidak lagi berorganisasi, kita sering bareng lagi. Ia tidak segan ke rumah, bersama teman-teman lain, untuk belajar jelang ujian. Untuk pelajaran yang dia anggap saya lebih bisa, dia tidak segan belajar. Itu di pelajaran Bahasa Inggris.
Dan, itu berlanjut saat kuliah. Di Senat Mahasiswa, kita di departemen yang sama. Di kepanitiaan, saat saya jadi ketua, ia membantu jadi Seksi Acara.
Saya pun beruntung jadi saksi, keunggulan Ira, dari SMA berlanjut hingga kuliah.
Berlanjut lagi saat sama-sama di dunia kerja. Saat itu, Ira berkarir di GAP, yang membuat dia lebih sering di luar negeri. Lama sekali tidak kontak, lalu nyambung kembali secara online saat ada Facebook (FB) 2008. Saya yang saat juga sudah pakai FB, tiba-tiba mendapat pesan di messenger FB. Dari Ira.
Kita pun ngobrol via messenger. Saya, agak sok, menulis pesan dalam bahasa Inggris. Ira, menulis jawaban: "Kuakui, waktu SMA kamu lebih jago bahasa Inggris. Tapi, kalau sekarang ...pakai boso Sidoarjo ae. hahaha."
Saya pun menurut, sadar diri. Ira masih aktif berbahasa Inggris. Dia bekerja di GAP Inc. Saya, saat itu, memimpin koran Jawa Pos di Tulungagung, yang karenanya lebih sering ber-inggah inggih dari pada oh no oh yes.
Tapi, kontak sambung kami tentu bukan hanya soal bahasa. Ira mengingatkan, untuk memikirkan teman-teman kita. Diawali dengan teman-teman sekelas di IPA 5 SMAN 1 Sidoarjo.
Ira menginisiasi reuni, agar tahu teman-teman kita bagaimana. Apakah ada yang perlu dibantu. Atau ada yang sakit, bahkan meninggal. Jadilah, reuni pertama kelas IPA5 setelah sama-sama dalam kondisi sudah berkarier tahun 2008. Ira sponsornya.
Berlanjut ke reuni teman kuliah, Fapet angkatan 1986 pada tahun 2009. Di tengah kesibukan di GAP, Ira datang ke Tulungagung, tempat reuni. Dia membawa sekarung celana, kemeja, sweater dan produk GAP. Untuk dilelang, dan hasilnya untuk dana alumni. Disiapkan untuk membantu alumni yang membutuhkan.
Berlanjut lagi ke reuni akbar teman-teman SMA angkatan 1986. Ia menyempatkan hadir dalam rapat persiapan, ikut merancang dan juga menyediakan dana awal yang nilainya besar untuk keperluan reuni.
Dengan langkah sistematis, dia juga merancang rencana agar reuni berlanjut dengan aksi yang bermanfaat bukan saja bagi sesama rekan alumni, tapi juga buat SMA dan Kota Sidoarjo. Ira, Direktur GAP yang langkahnya internasional, tidak segan turun tangan, bersama-sama kita, untuk memikirkan aksi-aksi bagi kepentingan lokal.
Dan itu berlanjut lagi, lagi, lagi dan lagiiiiiiiiiiiiii....mulai dari rutin menambah kas dana alumni, ikut mengunjungi teman atau guru sakit kalau pas dia ada di Indonesia, atau sekadar kumpul-kumpul.
Paling sering Ira menyediakan rumahnyi sebagai tempat kumpul dengan alasan: Aku bisa menyiapkan makanan sendiri untuk teman-teman, kata Ira yang paling hobi menyuguhkan rawon khas Sidoarjo dengan kerupuk udang Siok.
Tahun 2011, istri saya kena serangan stroke ringan. Saat itu, saya tinggal di Semarang. Ira dan Mas Zaim menghubungi saya, menawarkan perawatan khusus untuk istri saya.