Airmata Ira

Minggu 23 Nov 2025 - 21:42 WIB
Reporter : Dahlan Iskan
Editor : Yudiansyah

Meski saya kenal Ira sejak lama, dan saya tahu tingginya  integritasnyi, saya masih tetap berdecak. Saya malu sendiri.

Lebih-lebih, saat beriringan di terminal bandara, saling nanya nginap di mana. Saya bilang di lokasi acara, Hotel Inna Garuda. "Aku di Amaris," kata Ira.

Saya kembali tercenung. Inna Garuda bintang 4. Saya pilih menginap di situ. Ira, di Amaris yang bintang 2.

Dan, saya makin tercenung, ingat Dirut saya. Dirut BUMN saya, yang labanya 1/70 laba ASDP, nginap di Hotel Tentrem. Hari itu, tarif Tentrem hampir 5 kali lipat tarif Amaris.

"Acara kita kan seharian. Hotel mung gawe turu," kata Ira, berbahasa Jawa yang artinya hotel cuma buat tidur semalam.

Saya, terkesiap. Saat itu.

Meski, ternyata itu bukan kali pertama saya tetap tercenung.

Dan, tentu saja bukan pula yang terakhir.

Karena, beberapa kali bertemu Ira lagi, saya kembali terkesiap, tercenung dan berdecak.

Seperti saat tahun 2023. Saat itu, Maret 2023, ada teman nikahin anaknya. Di Malang. Ira, saya, sama-sama diundang. Juga beberapa teman lain di luar Malang. "Nginep nang omahku wae. Kene ngumpul, crito-crito," kata Ira. Menginap di rumahku saja. Berkumpul. Cerita-cerita, itu ajakan Ira.

Ira  memang punya rumah di Malang. Dia selalu tidak harus ke hotel kalau sedang ke Malang. Kota kelahirannyi. Kota tempat dia kuliah S1, di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB). Salah satu kota favoritnyi.

"Meski kecil, senang bisa punya rumah di Malang," katanyi soal rumahnyi di Malang itu. Rumah tiga kamar yang memang cukup sederhana dimiliki Ira,  yang saat membeli rumah itu --sekitar tahun 2013-- adalah Direktur di GAP Inc, perusahaan ritel Amerika.

Termasuk, pada Maret 2023 itu. Selain untuk menghadiri  nikahan Ira menyelesaikan pekerjaannya di ASDP di Surabaya.

Tidak hanya saya yang diundang menginap di rumahnyi. Pun teman-teman sesama undangan pernikahan. teman itu, untuk nginap di rumahnya. Ira hanya minta dibawakan pisang goreng dan mi godok (mi rebus).

Sampai di rumah Ira saya  sempat heran kok tidak ada mobil di depan rumahnyi. Saya teringat ke teman-teman yang jadi direksi BUMN, di mana pun.  Selalu ada mobil dengan sopir yang menunggu.

"Mungkin sopirnya disuruh pulang. Nginap tempat lain," pikir saya.

Kategori :

Terkait

Rabu 07 Jan 2026 - 17:17 WIB

Timtim Maduro

Selasa 06 Jan 2026 - 21:23 WIB

Gagal Sukses

Senin 05 Jan 2026 - 18:23 WIB

Jane Moses

Minggu 04 Jan 2026 - 20:54 WIB

Tiga Serangkai

Sabtu 03 Jan 2026 - 11:01 WIB

Jalur Kekeluargaan