Saya ingat rumah Ira hanya tiga kamar. Dua untuk kita teman-temannyi (saat itu berenam, tiga cowok, tiga cewek. Jadi, satu kamar untuk cowok, satu cewek). Satu kamar lagi dipakai pasangan suami istri yang jadi penjaga rumah di Malang. Jadi, mungkin sopirnya disuruh nginap di tempat lain.
Tetapi, paginya, sampai menjelang berangkat ke acara nikahan, tidak ada mobil datang. Tidak Alphard, bahkan Innova.
Yang datang malah Avanza, mobil teman yang tinggal di Malang. Yang juga mau undangan nikahan itu. Ira pun nyantai ikut mobil Avanza itu. "Ayo berangkat...," katanyi.
Itu menyadarkan saya yang --lagi-lagi-- tercenung, terkesiap, saat itu. Membayangkan dirut saya, yang mencetak laba hanya 1/70 dari Ira, kalau pas di luar kota, pilih-pilih harus naik mobil apa. Teringat juga, beberapa teman Direksi yang bahkan untuk urusan pribadi, tetap pakai mobil kantor yang pasti bukan Avanza.
Saat bercerita kisah tersebut anak-anak saya --saat mereka bersiap masuk dunia kerja--, saya bilang: "Itulah integritas, nDuk."
Saya --beruntung-- berteman dengan Ira, sejak lama sekali. Kami satu kelas sejak kelas 1 di SMAN 1 Sidoarjo. Lalu, sekelas lagi, saat kuliah di Fapet UB.
Lulus kuliah, sempat lama tidak terhubung. Baru terhubung lagi, saat saya sudah bekerja di Jawa Pos. Kebetulan suami Ira, mas Zaim Uchrowi, juga orang media. Zaim jadi wartawan Tempo, Republika, dan sempat menjadi Komisaris Utama Kantor Berita ANTARA.
Sebagai teman sejak begitu lama, saya beruntung, punya teman yang jelas integritasnya. Selain tentu saja unggul dan baik pribadinya.
Saat masih sama-sama SMA, sejujurnya, saya tidak merasa beruntung! Karena, merasa mendapat saingan, lawan berat! Termasuk, saingan dalam hal organisasi di sekolah.
Ira, sejak SMA sudah tegas dan punya prinsip. Waktu SMA itu --tahun 1984, dia sudah maju ke kepala sekolah untuk izin memakai jilbab. Saya, teman sekelasnyi, bukannya mendukung. Saya malah menentangnyi dengan prinsip sok pakai aturan: "Kalau mau pakai jilbab ya di sekolah ....." Saya menyebut nama sekolah agama waktu itu.
Astaghfirullah. Saya masih jahiliyyah saat itu. Ira mengaku saat itu sakit hati dengan saya. Kami sekelas, tapi tidak seiring.
Dan, itu berlanjut saat pemilihan ketua OSIS. Saya saat itu ketua kelas. Saya terpilih jadi ketua kelas, bukan Ira, bukan karena lebih baik, dari dia. Lebih karena, teman cowok banyak milih saya.
Teman-teman yang saat itu kebanyakan masih remaja, naif, memang banyak yang segan dengan Ira. Dia tegas dan cenderung galak. Berani, bahkan saat harus berdebat melawan cowok.
Saya juga beruntung, teman-teman cewek, memilih saya. Kata Ira, karena kerjaan saya tebar pesona ...hehehe. Jadilah, saya yang terpilih jadi ketua kelas.
Tapi, Ira yang berkualitas tetap punya tempat: dia dipilih jadi wakil kelas saya untuk maju dalam pemilihan Ketua OSIS.
Ira yang saat itu juga memimpin tim majalah sekolah, punya peluang untuk menang. Karena, yang berhak memilih adalah para ketua kelas. Dari kelas 1 sampai kelas 3, di setiap tingkat ada 8 kelas.