
Untuk menjawab tantangan yang dihadapi industri nilam, kolaborasi multipihak menjadi kunci utama. Pemerintah terus mendukung program yang berfokus pada peningkatan kapasitas petani, penyediaan mesin penyulingan modern, dan promosi sertifikasi.
Di tingkat lokal, kelompok tani nilam di Aceh Tengah bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala untuk mengembangkan pupuk hayati guna mengurangi serangan penyakit tanaman.
Sementara itu, di sisi hilir, perusahaan seperti PT Djasula Wangi, salah satu eksportir utama nilam Indonesia, mulai menggarap pasar niche dengan memproduksi minyak nilam organik bersertifikat EU Ecocert, seiring meningkatnya permintaan produk organik sekitar 20 persen per tahun, terutama dari Eropa.
Selain pasar ekspor, potensi pengembangan produk turunan nilam juga sangat terbuka, mengingat kandungan senyawa antiseptik dan antiinflamasi dalam minyak nilam yang dapat dikembangkan menjadi bahan obat herbal.
Penelitian Universitas Andalas (2023) bahkan menunjukkan bahwa ekstrak nilam efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, membuka peluang besar untuk masuk ke industri farmasi dan kesehatan.
BACA JUGA:Mengatasi Konflik dengan Kebijakan Ekonomi
Namun, agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi pemasok bahan mentah, perlu didorong industrialisasi nilam secara berkelanjutan. Pembangunan pabrik penyulingan berteknologi tinggi di sentra produksi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah minyak nilam nasional.
Selain itu, diplomasi ekonomi harus diperkuat agar harga nilam tidak sepenuhnya dikendalikan oleh importir asing. Indonesia juga perlu mulai mengintegrasikan nilam ke dalam skema perdagangan karbon, karena potensinya sebagai tanaman penyerap CO₂ sangat relevan dengan isu lingkungan global.
*) Kuntoro Boga Andri adalah Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan di Kementerian Pertanian