Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Matahari Penjaga Swasembada Pangan

Ilustrasi. Foto udara pompa air tenaga surya mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur-Irfan Sumanjaya-ANTARA FOTO

Skema ini telah mendorong pemasangan ratusan ribu pompa surya, bahkan di beberapa wilayah seperti Maharashtra telah terpasang lebih dari 700.000 unit dan terus bertambah setiap tahun.

BACA JUGA:Bulog Tegaskan Kesiapan Ekspor Beras dan Jagung Usai Capai Swasembada

Model ini menunjukkan bahwa hambatan utama teknologi ini bukan pada aspek teknis, tetapi pada biaya awal investasi, yang kemudian diatasi melalui intervensi kebijakan.

Pendekatan serupa juga berkembang di Nepal, Bangladesh, dan Afrika Sub-Sahara, di mana energi surya digunakan untuk meningkatkan akses irigasi pada petani kecil. Studi menunjukkan bahwa teknologi ini sangat efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan, tetapi adopsinya seringkali terbatas tanpa dukungan pembiayaan atau kredit mikro.

Secara umum, pengalaman internasional menegaskan bahwa energi surya bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga memerlukan desain kebijakan, pembiayaan, dan kelembagaan agar dapat diadopsi secara luas dan berkelanjutan dalam sistem pertanian.

Dalam menghadapi krisis energi dan El Nino, kita membutuhkan pendekatan yang tidak reaktif, tetapi struktural. Energi surya menawarkan peluang itu; murah dalam jangka panjang, tersedia secara luas, dan selaras dengan kebutuhan pertanian.

Menjaga pangan bukan hanya soal menanam, tetapi juga memastikan bahwa tanah, air, dan energi bekerja bersama. Di antara ketiganya, matahari adalah satu-satunya yang tidak pernah berhenti memberi, selalu setia memancarkan energinya untuk dimanfaatkan.

Jika selama ini kita melihat matahari sebagai faktor alam yang tidak dapat dikendalikan, kini saatnya melihatnya sebagai aset strategis nasional. (antara)

Oleh: Prof Dr. Ir Dian Fiantis

Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan