Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Matahari Penjaga Swasembada Pangan

Ilustrasi. Foto udara pompa air tenaga surya mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur-Irfan Sumanjaya-ANTARA FOTO

BACA JUGA:Pemerintah Dorong Swasembada Energi 2026 untuk Perluas Akses Listrik Desa

Di sinilah energi surya memainkan peran tidak langsung namun krusial. Dengan irigasi berbasis energi surya, tanah tidak mengalami fluktuasi ekstrem kering–basah. 

Kelembapan dapat dijaga mendekati kapasitas lapang, sehingga struktur tanah tetap stabil dan proses biogeokimia tetap berlangsung.

Pada tanah vulkanis seperti andisol yang banyak dijumpai di wilayah pegunungan, kemampuan menahan air memang tinggi. 

Namun tanpa pengelolaan yang tepat, air dapat cepat hilang melalui evaporasi dan perkolasi. Energi surya memungkinkan pengelolaan air yang lebih presisi—bukan sekadar banyak, tetapi tepat waktu dan tepat jumlah.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki radiasi matahari yang melimpah sepanjang tahun. Namun dalam praktiknya, sektor pertanian masih sangat bergantung pada energi fosil untuk irigasi dan pascapanen.

Paradoks ini menjadi semakin nyata ketika krisis energi terjadi. Petani justru berada pada posisi paling rentan. Mereka membutuhkan energi untuk bertahan, tetapi tidak memiliki akses terhadap energi yang terjangkau.

Pengembangan energi surya di sektor pertanian dapat menjadi solusi struktural dengan mengurangi kebergantungan pada BBM, menurunkan biaya produksi, meningkatkan ketahanan terhadap variabilitas iklim

BACA JUGA:Percepat Swasembada Gula, Kementan Siapkan 5,9 Miliar Mata Benih Tebu

Lebih jauh, mulai menggunakan energi surya adalah langkah menuju pertanian mandiri energi.

Menuju kemandirian pangan

Swasembada pangan tidak cukup hanya berbicara tentang luas lahan atau produksi, tetapi harus mencakup ketersediaan air, stabilitas tanah, dan akses energi.

Energi surya memungkinkan ketiganya terhubung dalam satu sistem yaitu air dapat diakses melalui pompa, tanah dapat dijaga kelembapannya, produksi dapat dipertahankan

Dengan kata lain, energi surya bukan sekadar teknologi tambahan, tetapi fondasi baru dalam sistem pangan modern.

Investasi awal sistem energi surya untuk irigasi pada lahan sekitar satu hektare berada pada kisaran Rp40 juta hingga Rp120 juta, bergantung pada kondisi lapangan. 

Faktor penentu utamanya meliputi ketersediaan dan jarak sumber air bawah tanah, kedalaman atau beda tinggi angkat air, kebutuhan debit, serta jenis komoditas yang dibudidayakan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan