Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

PP Tunas dan dan Menjalani Peran Sebagai Orang Tua

Ilustrasi. Orang tua mengawasi anaknya bermain di Taman Bendera Pusaka, Jakarta, Sabtu (28/3/2026)-Ahmad Naufal Oktavian/dr/tom-ANTARA FOTO

Karena itu, kehadiran PP Tunas harus menjadi momentum bagi para orang tua untuk menguatkan kembali komitmen mendampingi anak dalam perjalanan bertumbuh, bukan hanya fisik, melainkan juga jiwanya. Terlalu memercayakan pengasuhan anak kepada perangkat elektronik di genggaman adalah pilihan yang sangat tidak ramah bagi anak.

Menghindari repot karena lelah setelah bekerja sehingga seolah-olah tidak ada waktu untuk membersamai anak, sebetulnya hanya menunda waktu untuk menuju kerepotan yang lebih rumit di masa yang akan datang.

Anak-anak yang dibiasakan hanya sibuk dengan perangkat gawai di dalam rumah pada akhirnya akan membuat orang tua tidak akan pernah selesai dengan rasa repot dan lelah dalam mengasuh anak.

Anak-anak yang jiwanya bertumbuh tanpa kehangatan kasih sayang tulus dari orang tua akan menjadi generasi yang bermasalah di masa depan. 

Anak-anak yang lebih banyak diasuh oleh gawai cenderung akan menjadi generasi yang hanya dewasa secara fisik, tapi jiwanya tetap bocah. Ia akan bermasalah secara sosial yang berkepanjangan.

BACA JUGA:PP TUNAS Berlaku, TikTok Tutup Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Roblox Terapkan Mode Offline

Motif orang tua tidak mau repot dan ruwet dengan urusan pengasuhan anak justru menjadi lebih parah ketika fisik seorang anak tumbuh besar, namun jiwanya tetap sebagai anak kecil.

PP Tunas yang mengatur penyedia media elektronik mungkin sudah mematuhi pembatasan konten dan berbagai sarana pendukung untuk media sosial yang bisa diakses oleh seseorang anak. Hanya saja, tidak sedikit anak yang menggunakan perangkat elektronik milik orang tuanya atau gawai yang kanalnya menggunakan alamat email atas nama orang tuanya.

Jika gawai milik orang tua digunakan oleh anak, maka tanggung jawab penyedia platform terkait PP Tunas sudah selesai. Karena itu, justru peran orang tua yang harus dipastikan dijalankan dengan baik.

Pengasuhan sebagai seni

Sejatinya, pola pengasuhan anak merupakan seni. Pola pengasuhan tidak bisa diterapkan sama rata untuk semua orang tua terhadap anak-anaknya. Panduan edukatif yang bisa diseragamkan hanya di wilayah subjektif yang pratiknya tidak hitam putih.

Selain itu, keadaan orang yang harus "bersaing" dengan gawai dalam mengasuh anak bukan mengenai salah benar. Pada era serba digital, menghentikan 100 persen anak tidak boleh bermain gawai juga tidak sepenuhnya betul.

BACA JUGA:Menkomdigi Meutya Hafid Gandeng Google Perketat Perlindungan Anak di Dunia Digital

Digital adalah dunia masa depan anak-anak era masa kini. Karena itu, pola yang lentur seperti gelang karet dalam mengasuh anak menjadi jalan yang lebih realistis.

Pola ini bisa diterapkan dengan membuat perjanjian dengan anak untuk menggunakan gawai selama beberapa menit. 

Setelah itu, anak harus diberi "hadiah" pada jiwanya dengan melibatkan kebersamaan orang tua dalam permainan bersama, seperti membuat keterampilan mainan, atau orang tua terlibat pada kesukaan anak, seperti memelihara ikan di aquarium.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan