Meritokrasi yang Tersandera, Kakistokrasi yang Dipelihara
Nina Kreasih, S.Psi, M.Psi.T, Analis Kebijakan Muda Belitung-Istimewa-
Meritokrasi bukanlah jalan yang mudah. Hirarki kepemimpinan berbasis kompetensi yang relevan bukan sekadar idealisme akademik. Ia adalah prasyarat mutlak bagi birokrasi yang efektif dan pelayanan publik yang berkualitas. Tanpa sistem yang menempatkan individu berdasarkan kompetensi yang relevan, pemerintah daerah akan terus menghadapi stagnasi kinerja.
BACA JUGA:Meritokrasi Hati
Sebagai ASN, saya percaya bahwa perubahan itu mungkin. Kepemimpinan yang berintegritas akan mendorong terciptanya budaya kerja yang menghargai kompetensi dan profesionalisme.
Sebaliknya, tanpa komitmen tersebut, meritokrasi hanya akan menjadi jargon administratif yang kehilangan makna. Refleksi ini menegaskan bahwa perjuangan menuju meritokrasi adalah tanggung jawab bersama—baik sistem maupun individu di dalamnya.
Pada akhirnya, refleksi ini bukan sekadar kritik terhadap sistem, tetapi juga cermin bagi seorang ASN. Sebab sebaik apa pun individu, jika ditempatkan dalam sistem yang tidak adil, maka potensi terbaiknya tidak akan pernah benar-benar muncul.
Dan di titik itulah, perjuangan ASN sejatinya dimulai: bukan hanya bekerja dalam sistem, tetapi juga perlahan memperbaikinya. Sebagai ASN, harapan saya sederhana: suatu hari nanti, bahwa jabatan diberikan kepada mereka yang mampu, bukan sekadar yang tersedia.
Karena pada akhirnya, birokrasi bukan hanya tentang struktur dan prosedur. Ia adalah tentang kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu hanya bisa dijaga jika mereka yang memimpin benar-benar layak untuk memimpin. Sebuah Harapan yang saya harap tidak berlebihan.
*) Nina Kreasih, S.Psi, M.Psi.T, Analis Kebijakan Muda Belitung