Meritokrasi yang Tersandera, Kakistokrasi yang Dipelihara
Nina Kreasih, S.Psi, M.Psi.T, Analis Kebijakan Muda Belitung-Istimewa-
Jika pimpinan tidak memiliki kompetensi yang relevan, maka yang terjadi adalah pengambilan keputusan menjadi tidak berbasis data dan analisis, Inovasi terhambat karena keterbatasan pemahaman substansi, ASN kompeten di bawahnya kehilangan motivasi (demotivasi struktural) serta Budaya organisasi menjadi permisif terhadap mediokritas.
BACA JUGA:Meritokrasi Ponorogo
Dalam teori kebijakan publik, ini dapat dijelaskan melalui konsep principal-agent problem, di mana ketidaksesuaian kompetensi pemimpin (agent) menyebabkan tujuan organisasi (principal) tidak tercapai secara optimal.
Lebih jauh lagi, teori human capital menegaskan bahwa investasi pada kompetensi hanya akan berdampak jika individu ditempatkan pada posisi yang tepat. Tanpa itu, organisasi mengalami misallocation of talent.
Mengapa Meritokrasi ASN Sulit Ditegakkan di Daerah?
Ada beberapa alasan utama mengapa meritokrasi sulit ditegakkan di daerah. Alasan yang sering kali menjadi sorotan yaitu adanya Tarikan politik yang kuat. Di tingkat daerah, kepala daerah (gubernur/bupati/wali kota) memiliki pengaruh besar dalam penempatan jabatan.
Dalam banyak kasus, keputusan tidak sepenuhnya berbasis kompetensi, tetapi juga pertimbangan loyalitas politik ataupun balas jasa. Akibatnya, meritokrasi menjadi terdistorsi.
Alasan lain meritokrasi sulit ditegakkan yaitu masih kentalnya Budaya Patronase. Budaya “Siapa dekat dengan Siapa” sering lebih menentukan. Fenomena ini melahirkan ASN Kompeten tersingkir oleh “yang punya akses”.
Selain itu Secara formal, ASN sudah memiliki sistem penilaian seperti SKP (Sasaran Kinerja Pegawai), Talent Pool, dan Assesment Center. Namun pada pengimplementasiannya, masih administratif, bukan substantif. Akibatnya sulit dibedakan pegawai berkinerja tinggi dan rendah secara objektif.
Dalam konteks pengawasan, meskipun sudah ada Lembaga seperti Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), pengawasan belum sepenuhnya efektif. Saksi atas pelanggaran sistem merit kurang tegas.
Ini membuat aturan Meritokrasi hanya ada diatas kertas, tapi lemah dalam praktik. Pada daerah yang memiliki SDM yang terbatas, seringkali Manajemen SDM Kembali kepada pola lama yaitu yaitu subjektivitas dan intuisi pimpinan.
Dampak paling berbahaya dari sistem yang tidak meritokratis bukanlah kesalahan kebijakan, melainkan hilangnya harapan. Fenomena ini dikenal dalam literatur sebagai penurunan public service motivation—sebuah kondisi yang secara perlahan menggerogoti kualitas birokrasi dari dalam.
Meritokrasi atau Kakistokrasi, Pilihan Sulit Birokrasi Daerah
Saya percaya bahwa banyak ASN di daerah memiliki kapasitas dan integritas yang baik. Mereka ingin bekerja secara profesional, ingin melihat sistem yang adil, dan ingin berkontribusi secara maksimal. Tetapi mereka juga membutuhkan ekosistem yang mendukung.
Pemerintah daerah hari ini berada di persimpangan: Apakah akan terus mempertahankan kenyamanan semu dengan praktik yang tidak profesional, atau berani membangun sistem yang mungkin tidak populer, tetapi benar.