Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ketika Solidaritas Menjadi Penjaga Nyawa

Petugas melayani warga mengurus BPJS kesehatan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (13/12/2024). MPP Pontianak yang menjadi pusat pelayanan administrasi untuk memudahkan masyarakat dalam mengurus berbagai administrasi ter-Jessica Wuysang-ANTARA FOTO

Akhirnya, ada kabar dari RSUD setempat. Masih ada satu ruang kosong. Malam itu juga, ibunya dipindahkan.

Di RSUD, Ella Atnawati hanya sempat dirawat semalam. Esok harinya, sang ibu mengembuskan napas terakhir. Kebersamaan Putri merawat ibunya hanya bisa berlangsung sampai akhir 2019.

Saat ibunya wafat, pihak rumah sakit menawarkan bantuan agar jenazah dimandikan di rumah sakit, dan Putri juga difasilitasi ambulans untuk mengantar ibunya kembali ke Bandung.

Tak ada yang benar-benar siap menghadapi kehilangan. Tetapi negara bisa hadir, bukan untuk menghilangkan rasa sakit, melainkan untuk memastikan warganya tidak harus menderita dua kali, yaitu karena penyakit dan beban biaya.

Cerita Putri dan Adi adalah cermin dari janji negara yang betul-betul direalisasikan. Layanan yang bermutu dan pengawasan yang nyata menjadi komitmen yang terus dipelihara, karena hak atas kesehatan bukan semata urusan iuran, tetapi soal keberpihakan kepada yang paling rentan, di saat sedang genting.

Inilah mengapa Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) patut terus digulirkan. Sebagaimana yang diungkapkan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti kepada ANTARA, banyak orang berobat tanpa harus menjual tanah, dirawat tanpa harus menunggu bantuan pinjaman, dan selamat berkat gotong royong.

BACA JUGA:Keceriaan Memecahkan Heningnya Asrama Sekolah Rakyat Pelosok Negeri

Gotong royong yang menjadi dasar JKN, bukanlah sekadar warisan budaya, tetapi juga bukti bahwa sistem jaminan sosial bisa dibangun secara kolektif, inklusif, dan berkelanjutan, selama ada kepercayaan dan transparansi yang terus dijaga serta partisipasi yang bertumbuh.

Sepuluh tahun sejak diluncurkan, JKN kini menjangkau lebih dari 278 juta jiwa atau sekitar 98 persen penduduk Indonesia. Sebuah capaian yang bahkan melampaui cakupan asuransi kesehatan di negara-negara besar seperti Amerika Serikat.

“Di Amerika masih ada 30 juta penduduk belum ter-cover asuransi. Indonesia hanya sisa 4 jutaan saja yang belum tercover (BPJS Kesehatan) dalam waktu 10 tahun,” ungkap Ghufron.

Menurutnya, kekuatan sistem ini bukan hanya pada iuran yang dibayarkan, tapi pada nilai kebersamaan yang menjadi rohnya.

“Sampai Presiden Asosiasi Studi Internasional (ISA) datang ke Jakarta memberi penghargaan, karena negara lain masih belajar. Kita sudah sampai sini,” kata Ghufron.

Menurutnya, kekuatan sistem JKN ini bukan hanya pada iuran yang dibayarkan, tapi pada nilai kebersamaan yang menjadi rohnya.

Capaian ini tidak datang tiba-tiba. Saat masih bernama PT Askes (Asuransi Kesehatan), cakupannya hanya sekitar seratus juta orang hingga 2014. Transaksi layanan kesehatan saat itu hanya sekitar 252.000 kali per hari.

BACA JUGA:Esensi Pajak E-Commerce dan Lompatan Perpajakan Digital Indonesia

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan