Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ketika Solidaritas Menjadi Penjaga Nyawa

Petugas melayani warga mengurus BPJS kesehatan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (13/12/2024). MPP Pontianak yang menjadi pusat pelayanan administrasi untuk memudahkan masyarakat dalam mengurus berbagai administrasi ter-Jessica Wuysang-ANTARA FOTO

Karena pengobatan medis tak terjangkau, keluarga mencoba alternatif. Tapi sampai tujuh tahun berlalu, tidak ada perubahan berarti. Stroke makin meluas. Wajah ibunya mulai tertarik.

Begitu jaminan kesehatan pemerintah mulai berjalan di tahun 2015, ASN dengan empat anak itu mendaftarkan ibunya dalam kepesertaan BPJS Kesehatan. Iurannya otomatis terpotong setiap bulan, hanya satu persen dari gaji pokok.

Setelah mengurus rujukan dari Puskesmas, ibunya langsung bisa dirawat di Santosa Hospital Bandung Kopo, rumah sakit swasta yang dekat dari rumahnya.

“Saya pikir rumah sakit swasta bakal beda perlakuannya, ternyata nggak. Dokternya ramah. Susternya bahkan nyuapin, mandiin, pas saya harus balik kerja. Saya sempat nitip ibu ke mereka,” kenang Putri.

Semua layanan itu dijalani tanpa pungutan tambahan. Tidak ada kesan dibedakan, meski ia masuk lewat jalur jaminan kesehatan.

Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Kondisi Ella Atnawati semakin mengkhawatirkan. Sementara itu, Putri yang saat itu bertugas di Serang, Banten, tidak bisa lagi sering pulang ke Bandung untuk mendampingi ibunya berobat.

BACA JUGA:Menjaga Penerimaan Negara di Tengah Babak Baru Kebijakan Tarif Trump

Ia pun mengambil keputusan untuk memboyong ibunya ke Serang agar bisa tetap dirawat. Dengan maksud ingin memastikan ibunya mendapatkan perhatian setiap hari.

Di Serang, Putri kembali membawa ibunya ke rumah sakit. RS Sari Asih dipilih sebagai rumah sakit swasta yang menurutnya cocok untuk orang tua yang butuh suasana nyaman selama perawatan.

Di rumah sakit swasta tersebut, Putri perlu membayar selisih biaya lantaran ia memilih menempatkan ibunya di ruang rawat inap kelas I.

“Tambahan biayanya nggak besar, tapi kenyamanan ibu bisa terjamin, keluarga yang menunggu juga bisa istirahat lebih baik,”tutur Putri.

Namun, sambung Putri, tak lama setelah itu, kondisi ibunya mendadak memburuk. Saturasi oksigennya turun drastis. Dokter menyarankan agar segera dipindahkan ke ruang ICU dan dipasang ventilator. Tapi sayangnya, saat itu ICU rumah sakit penuh.

Putri panik. Tapi rumah sakit tak tinggal diam. Tim medis langsung bergerak, menelpon satu per satu rumah sakit di wilayah Serang dan sekitarnya, mencarikan ruang ICU yang bisa menampung pasien dalam kondisi kritis.

BACA JUGA:25 Tahun Bangka Belitung: Saatnya Pemimpin Kembali ke Akar 'Serumpun Sebalai'

“Saya terharu, semua dokter dan perawat tetap bantu semaksimal mungkin,” kenangnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan