Ketika Solidaritas Menjadi Penjaga Nyawa
Petugas melayani warga mengurus BPJS kesehatan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (13/12/2024). MPP Pontianak yang menjadi pusat pelayanan administrasi untuk memudahkan masyarakat dalam mengurus berbagai administrasi ter-Jessica Wuysang-ANTARA FOTO
“Waktu itu bapak dirawat lima hari, lalu boleh pulang,”kenangnya.
Tapi yang membuatnya benar-benar terbantu bukan saja hanya saat operasi, melainkan ketika bapaknya yang sudah tua, mulai sering sesak napas dan harus dirawat berulang kali.
“Bapak udah tua. Kadang tiba-tiba aja drop, sesak, dan harus masuk (RS) lagi,”kata Pria 45 tahun itu.
Ia pun merasa beruntung bisa punya akses ke layanan yang bisa membantunya melewati semua itu. Bahkan, waktu itu bapak dari Ngadi Yanto masih masuk kategori yang dibebaskan dari iuran, yang termasuk dalam program Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan, yang merupakan bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Coba aja kalau saya nggak punya jaminan (JKN) waktu itu, lihat bapak operasi, sesak napas saya kan nggak megang duit,” ujarnya.
BACA JUGA:Era AI, Transformasi Besar MRO Penerbangan yang Tak Terhindarkan
Saat itulah Adi menyadari betapa kesehatan bisa datang dan pergi tanpa aba-aba.
“Ternyata sakit itu ngintai siapa aja. Hari ini kita sehat, besok bisa beda cerita,” ujarnya lirih.
Di Bandung, Jawa Barat, kisah lain datang dari Putri (38), seorang pegawai negeri sipil yang sejak muda ikut membantu merawat ibunya, Ella Atnawati. Tahun 2008, ibunya terserang stroke. Saat itu belum ada jaminan kesehatan pemerintah yang bisa diakses luas oleh publik. Semua biaya dibayar sendiri.
“Awal terserang stroke saya langsung bawa ibu ke rumah sakit terdekat dan ternyata ibu mengalami komplikasi,” kenang Putri.
Selama mendapatkan perawatan di rumah sakit, Putri mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena sang ibu perlu mendapatkan pengobatan dari berbagai dokter, mulai dari saraf, paru, hingga jantung. Belum lagi latihan fisioterapi pascastroke sebagai terapi yang bertujuan memaksimalkan kembali fungsi motorik atau gerak tubuh seperti sebelum stroke.
“Waktu itu satu sesi terapi bisa sampai Rp250.000. Belum lagi ibu butuh tiga sesi seminggu,” keluh Putri.
Selain fisioterapi, Ibunya pun perlu mengonsumsi obat tekanan darah tinggi yang satu butirnya Rp25.000, untuk dikonsumsi tiga kali sehari.
BACA JUGA:Resah Tambang Timah di Pesisir Pulau Belitung
“Awal-awal semangat yang penting ibu bisa sembuh, tapi berapa lama saya bisa bertahan?” katanya pelan.