Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Kemarau Basah Momentum Memahami Tanah Secara Spasial

Foto udara petani memanen cabai di lahan pertanian Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (11/7/2025). Sejumlah lahan pertanian cabai dan tomat di kaki Gunung Semeru tersebut mengalami penurunan produksi dengan perbandingan per -Irfan Sumanjaya/YU-ANTARA FOTO

BACA JUGA:Mewujudkan Wisata Pendakian Aman di Gunung Rinjani

Penyuluh menjadi ujung tombak penghubung antara data dan petani. Penyuluh perlu dibekali kemampuan membaca serta memanfaatkan data dan informasi spasial dari berbagai lembaga pemerintah, seperti prakiraan cuaca dari BMKG, peta kesesuaian lahan dari Kementerian Pertanian, atau peta risiko bencana dari BNPB.

Dengan keterampilan ini, penyuluh dapat menyampaikan informasi yang lebih akurat dan kontekstual, bukan sekadar memberikan saran umum.

Proses inilah yang menjadikan teknologi dan data benar-benar berguna hingga ke akar rumput. Pemerintah juga perlu berinvestasi lebih banyak dalam program-program yang menjembatani data dengan tindakan nyata di tingkat lokal.

Program itu, misalnya, memperluas jaringan Sekolah Lapang Iklim, menyediakan pelatihan untuk penyuluh agar mahir menggunakan data spasial, dan memastikan infrastruktur digital menjangkau wilayah-wilayah terpencil.

Ketahanan pangan bukan semata soal maju mundur musim tanam atau kekhawatiran gagal panen, namun juga tentang bagaimana memahami bahwa kondisi tanah berbeda-beda secara spasial, kemampuan tanah menyimpan air yang berbeda-beda secara spasial di tengah cuaca yang makin sulit diprediksi.

Terakhir, yang paling penting bagaimana seluruh informasi itu diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan, agar petani tahu apa yang harus dilakukan serta pemerintah mampu merancang kebijakan yang tepat.

BACA JUGA:AI dan Masa Depan Ekonomi: Peluang Produktivitas atau Ancaman Ketimpangan?

Ketahanan pangan masa depan harus dibangun di atas fondasi ilmu, data, dan tindakan nyata. Karena pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada langit yang menurunkan hujan, tetapi juga pada tanah di bawah kaki manusia yang menyimpan air untuk kehidupan.

Di tengah cuaca yang makin tidak menentu, setiap tetes air yang bertahan di dalam tanah bisa menjadi penentu masa depan pangan bangsa. (ant)

*) Vicca Karolinoerita, MSi

Peneliti di Pusat Riset Geoinformatika, BRIN

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan