Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Kemarau Basah Momentum Memahami Tanah Secara Spasial

Foto udara petani memanen cabai di lahan pertanian Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (11/7/2025). Sejumlah lahan pertanian cabai dan tomat di kaki Gunung Semeru tersebut mengalami penurunan produksi dengan perbandingan per -Irfan Sumanjaya/YU-ANTARA FOTO

Tanpa jeda kering tersebut, tanaman tidak terpicu berbunga, sehingga musim buah menjelang akhir tahun terancam tidak sebesar musim buah pada tahun-tahun biasanya. Seandainya durian berbuah pun, daging buahnya berkadar air tinggi, sehingga rasanya kurang manis.

Semua pihak yang peduli pada sektor pertanian tentu harus mencari cara agar ketahanan pangan tidak terganggu karena anomali iklim, saat ini.

Pemerintah dan petani harus dapat mengambil peluang menanam tanaman yang membutuhkan banyak air pada fase yang tepat.

BACA JUGA:RUU KUHAP Mulai Bergulir di DPR, Jangan Sampai Aspirasi 'Ditekuk'

Meskipun demikian, sebaliknya dapat pula melakukan mitigasi maupun mencari solusi bagi tanaman yang pada fase tidak membutuhkan banyak air.

Kemarau basah

Pada praktiknya terdapat hal yang sering luput disadari dalam menghadapi fenomena seperti kemarau basah.

Anomali kemarau basah sebetulnya tidak hanya soal banyak atau sedikitnya hujan, tetapi pada bagaimana mendeteksi kemampuan tanah menahan dan menyimpan air yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman serta mengelolanya secara tepat untuk tanaman sesuai fase pertumbuhannya.

Setiap jenis tanah memiliki kemampuan berbeda dalam menyimpan air. Terdapat tanah yang cepat mengering, meski baru saja diguyur hujan karena bertekstur pasir.

Terdapat pula tanah yang mampu menahan air lebih lama karena mengandung klei lebih banyak, sehingga tanaman tetap tumbuh, meski hujan sudah berhenti berhari-hari.

Kemampuan tanah menyimpan air juga bergantung pada kadar bahan organik di dalam tanah serta kehadiran penutup tanah alami. Kemampuan tanah menahan air tersebut menjadi penentu, apakah tanaman bisa bertahan atau justru layu karena kekurangan air.

BACA JUGA:Relevansi Gagasan Sjahrir dan Soemitro tentang Kesejahteraan Sosial

Persoalannya adalah perubahan iklim membuat pola hujan semakin sulit diprediksi. Hujan deras dapat turun tiba-tiba, lalu lama tidak muncul lagi.

Tanah yang tidak mampu menyimpan air dengan baik akan cepat kering, sehingga tanaman pun rentan gagal tumbuh. Di sinilah peran data dan teknologi menjadi krusial.

Kini, teknologi pemetaan digital tanah semakin dimanfaatkan untuk memperkirakan seberapa besar kapasitas tanah menyimpan air yang tersedia bagi tanaman.

Para peneliti menggunakan data tekstur tanah (proporsi fraksi penyusun tanah berupa pasir, debu, dan klei), kadar bahan organik, serta kepadatan tanah untuk menghitung kemampuan tanah menahan air.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan