Kemarau Basah Momentum Memahami Tanah Secara Spasial
Foto udara petani memanen cabai di lahan pertanian Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (11/7/2025). Sejumlah lahan pertanian cabai dan tomat di kaki Gunung Semeru tersebut mengalami penurunan produksi dengan perbandingan per -Irfan Sumanjaya/YU-ANTARA FOTO
Perhitungan tersebut di lapangan dilakukan secara manual, berdasarkan data di lapangan, tetapi, kini seiring kemajuan teknologi dapat dilakukan melalui pendekatan hubungan antar-sifat tanah (pedotransfer function).
Maksudnya, dengan sifat tanah yang paling menentukan, maka dapat diprediksi sifat tanah turunannya, tanpa harus mengukur langsung di lapangan, lalu dilakukan prediksi kemampuan menyimpan air tanah secara spasial.
BACA JUGA:Apakah Indonesia hanya Bisa Menjadi Pembeli Alutsista?
Informasi dari pemetaan ini sangat berguna untuk menunjukkan daerah-daerah yang tanahnya cepat kering, rawan banjir, atau cocok untuk tanaman tertentu.
Misalnya, para peneliti dapat menghitung plant available water atau air tersedia bagi tanaman, yaitu jumlah air yang dapat diserap tanaman, antara kapasitas lapang tanah dan titik layu permanen. Informasi ini penting karena setiap tanaman memiliki kebutuhan air berbeda.
Petani, melalui pendampingan penyuluh, dapat menentukan jenis tanaman yang sesuai, mengatur pola tanam, dan merancang strategi pengelolaan air di lahannya. Pemerintah pun dapat merencanakan pembangunan irigasi atau program bantuan pertanian secara lebih tepat sasaran.
Sekolah lapang
Di beberapa daerah, BMKG telah mengembangkan Sekolah Lapang Iklim serta aplikasi Info BMKG untuk membantu petani memantau potensi hujan ekstrem maupun kekeringan.
Namun, teknologi ini belum menjangkau semua wilayah, terutama desa-desa terpencil yang justru paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
BACA JUGA:Gempuran Promosi Judi Online ke Situs Resmi dan Alarm Keamanan Digital
Banjir besar yang melanda Jabodetabek pada awal Maret 2025, misalnya, menyebabkan kerugian hampir Rp1,7 triliun, merusak rumah, infrastruktur, serta mengguncang perekonomian masyarakat di Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Jakarta.
Peristiwa ini mengingatkan semua pihak bahwa setiap curahan air perlu dikelola dengan bijak, baik saat berlebih (banjir) maupun saat kekurangan (kekeringan). Kunci pengelolaan tersebut terdapat pada informasi kemampuan tanah untuk menahan serta menyimpan air.
Berikutnya, tantangan terbesar bukan semata soal ketersediaan data dan teknologi, melainkan bagaimana informasi tersebut sampai ke pengguna, yaitu ke lahan-lahan kecil milik petani di desa.
Banyak petani belum terbiasa menggunakan data digital, bahkan belum memiliki akses internet memadai untuk memperoleh informasi dan solusi terkini. Padahal, petani di desa yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
Di sinilah peran edukasi dan pendampingan sangat penting. Petani perlu didampingi untuk dapat membaca informasi cuaca, memahami kondisi tanahnya, dan menerjemahkan data menjadi keputusan konkret di lapangan, mulai dari memilih varietas, menentukan jarak dan waktu tanam, hingga mengatur irigasi.
Selain teknologi yang sederhana dan mudah diakses, seperti papan informasi di balai desa, aplikasi berbasis pesan singkat pada telepon seluler pintar atau kunjungan penyuluh, peningkatan kapasitas penyuluh pertanian juga sangat dibutuhkan.