Ketika Sains dan Iman Bertemu di Hari Raya Kurban
Sejumlah petugas menimbang dan mengemas daging kurban di Masjid Al Muhajirin Jalan Jimerto, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/6/2025). Panitia kurban di masjid milik Pemkot Surabaya itu menyembelih sembilan ekor sapi dan mengemasnya dalam besek bambu untuk d-Didik Suhartono/rwa-ANTARA FOTO
Setiap tanggal 10 Zulhijah, jutaan umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah kurban sebagai peringatan ketaatan Nabi Ibrahim AS dalam melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS.
Namun, peristiwa ini berakhir dengan digantinya Ismail oleh seekor hewan kurban sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT.
Ibadah kurban merupakan perwujudan dari kepatuhan dan keikhlasan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan agar kita menyembelih dengan cara yang baik di antaranya adalah kita diminta untuk menggunakan pisau yang tajam, tidak boleh menyiksa hewan, dan hewan harus dibuat tenang sebelum disembelih.
Menariknya, ajaran ini kini terbukti sangat selaras dengan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) dan keamanan pangan modern. Bahkan di balik prosesi penyembelihan hewan kurban yang dilakukan secara syar’I, ada sebuah harmoni luar biasa antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan.
BACA JUGA:Belitung dan Ironi Anggaran Miliaran: Sampah Berserakan, Etika Terabaikan
Nilai ibadah kurban bukan terletak pada hewan atau darahnya, tetapi pada niat dan ketakwaan yang melandasi ibadah tersebut.
Namun, dalam realisasi ibadah kurban, aspek biologis seperti penyembelihan yang benar dan pengelolaan daging yang higienis tidak boleh diabaikan. Di sinilah ilmu pengetahuan berperan untuk mengoptimalkan nilai ibadah dalam praktik.
Ibadah kurban bukan sekadar ritual, melainkan juga proses biologis yang sangat ilmiah.
Pernahkah kita berpikir, bagaimana tubuh hewan bisa tetap “hidup” sesaat setelah disembelih? Atau kenapa daging qurban bisa lebih awet dan sehat jika disembelih sesuai syariat? Jawabannya terletak pada kerja para enzim dan proses biologis yang disebut apoptosis atau kematian sel yang terprogram.
Di balik proses kurban, terjadi berbagai reaksi biokimia kompleks dalam tubuh hewan, yang tidak hanya berkaitan dengan sistem peredaran darah dan saraf, tetapi juga keterlibatan molekul-molekul biologis seperti enzim yang memiliki peran fundamental dalam menjaga kualitas daging, aspek halal-thayyib, dan efisiensi biologis.
BACA JUGA:Tunaikan Ibadah Kurban Tanpa Perlu Mengorbankan Lingkungan
Enzim dapat dikatakan sebagai pekerja sunyi dalam tubuh makhluk hidup. Enzim adalah biomolekul berupa protein yang bertindak sebagai katalisator biologis. Enzim mempercepat reaksi kimia tanpa ikut habis dalam reaksi tersebut.
Dalam tubuh hewan maupun manusia, enzim berperan dalam berbagai proses metabolisme: pencernaan, kontraksi otot, transmisi sinyal saraf, hingga kematian sel (apoptosis).