Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ketika Sains dan Iman Bertemu di Hari Raya Kurban

Sejumlah petugas menimbang dan mengemas daging kurban di Masjid Al Muhajirin Jalan Jimerto, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/6/2025). Panitia kurban di masjid milik Pemkot Surabaya itu menyembelih sembilan ekor sapi dan mengemasnya dalam besek bambu untuk d-Didik Suhartono/rwa-ANTARA FOTO

Saat ini, industri pengolahan daging juga menggunakan enzim rekombinan atau yang dihasilkan oleh mikroorganisme, seperti enzim Papain (bersumber dari daun papaya yang memiliki fungsi dalam melunakkan daging), enzim Bromelain (bersumber dari buah nanas dan berfungsi untuk mempercepat fermentasi) serta enzim Transglutaminase yang berfungsi mengikat potongan daging menjadi utuh.

Adanya penggunaan enzim ini memperpanjang filosofi kurban, dari sekadar penyembelihan menjadi proses industrialisasi yang tetap menjaga nilai manfaat, efisiensi, dan kehalalan.

Terdapat etika dan regulasi halal terhadap penggunaan enzim ini. BPJPH dan MUI telah mengatur bahwa sumber enzim yang digunakan dalam makanan harus halal (tidak dari hewan najis atau haram), thayyib (aman, tidak berbahaya) dan diperoleh melalui proses fermentasi mikroba halal jika berasal dari sumber non-hewan.

Hal ini tentu sesuatu yang sangat penting penting dalam menghadapi tantangan modern, seperti enzim hasil rekayasa genetika (GMO) yang harus ditelusuri asal-usulnya.

Enzim dalam konteks ibadah kurban ini bisa dijadikan sebagai simbol ketaatan atau ketundukan hamba kepada Tuhan. Enzim tidak “memilih” tugasnya. Ia bekerja sesuai perintah DNA dan lingkungan. Ia tidak protes, tidak berhenti bekerja walau setelah “kematian” sel.

Ini bisa menjadi teladan bagi manusia, bahwa pengabdian tidak berhenti hanya karena situasi berubah.

Enzim juga bekerja tanpa pamrih. Ia tidak terlihat, tetapi hasil kerjanya terasa yang dibuktikan dengan adanya daging yang empuk, lezat, dan tahan lama. Inilah bentuk “ikhlas” dalam biokimia—bekerja tanpa mengharapkan pengakuan. Meskipun sel sudah mati, enzimnya masih bekerja. Sebagaimana seseorang yang telah wafat, namun amalnya masih memberi manfaat.

BACA JUGA:Pancasila 5.0: GenEtika Nusantara di Era Simulakra

Rasulullah SAW bersabda: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Dalam konteks ini enzim adalah “amal jariyah” dalam biologi hewan kurban. Pengenalan konsep “pengorbanan enzim” ini tentu dapat digunakan sebagai pendekatan edukatif yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik baik siswa atau mahasiswa.

Di dalam pembelajaran Biokimia atau Biologi Umum misalnya, topik ini bisa menjadi jembatan integrasi antara sains dan Islam. Adanya praktikum pelunakan daging dengan dan tanpa enzim bisa menjadi contoh kegiatan yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, dalam konteks ini maka dalam setiap ibadah kurban, kita tidak hanya menyaksikan ketaatan seorang Muslim kepada Rabb-nya, tetapi juga menyaksikan jutaan molekul dalam tubuh hewan kurban yang tetap bekerja memberikan manfaat bahkan setelah kematian. Enzim adalah simbol pengorbanan sunyi yang tak terlihat, tetapi berkontribusi nyata.

Kurban sejatinya adalah pelajaran hidup. Ia mengajarkan kita untuk ikhlas, peduli pada sesama, dan bertanggung jawab pada makhluk hidup lainnya.

BACA JUGA:Melampaui PDB, Mencari Indikator Kesejahteraan Sejati

Dari sudut pandang biologi, kita juga diajarkan untuk memahami bahwa setiap proses dalam tubuh makhluk hidup adalah ciptaan Allah yang luar biasa rapi dan ilmiah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan