Ketika Sains dan Iman Bertemu di Hari Raya Kurban
Sejumlah petugas menimbang dan mengemas daging kurban di Masjid Al Muhajirin Jalan Jimerto, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/6/2025). Panitia kurban di masjid milik Pemkot Surabaya itu menyembelih sembilan ekor sapi dan mengemasnya dalam besek bambu untuk d-Didik Suhartono/rwa-ANTARA FOTO
Enzim adalah protein spesial yang bekerja sebagai “mesin pemroses” dalam tubuh semua makhluk hidup. Saat hewan kurban disembelih, tubuhnya mulai mengalami perubahan biologis. Enzim-enzim seperti protease dan ATPase langsung bekerja memecah protein dan sisa energi dalam otot. Inilah yang membuat daging menjadi empuk secara alami.
Hebatnya lagi, tubuh hewan tidak serta-merta "mati total" setelah disembelih. Otot-ototnya masih aktif sebentar, berkat energi terakhir yang dibantu oleh enzim. Proses ini membuat darah bisa keluar lebih sempurna, menjadikan daging lebih bersih dan tahan lama.
Berbeda dengan kematian sel akibat kecelakaan (nekrosis), apoptosis adalah proses alami dan tertib. Setelah aliran darah berhenti, sel-sel dalam tubuh hewan akan mematikan diri secara sistematis. Ini adalah cara tubuh "berpamitan" dengan rapi, tanpa membuat kerusakan tambahan.
BACA JUGA:Pendidikan dan Integritas Intelektual Pemimpin Bangsa: Antara Legitimasi dan Etika Publik
Apoptosis membantu membersihkan jaringan dari zat-zat berbahaya dan mempermudah kerja enzim. Maka, semakin syar’i proses penyembelihan, semakin alami dan sehat pula kematian sel dalam tubuh hewan tersebut.
Ketika hewan disembelih secara syar’i (memotong tiga saluran utama: trakea, esofagus, dan dua pembuluh darah besar), beberapa proses penting terjadi di antaranya adalah pertama terjadinya perdarahan maksimal dimana penyembelihan yang benar akan menyebabkan darah keluar dengan cepat karena jantung masih berdetak beberapa saat setelah penyembelihan. Ini penting untuk mengurangi kadar mikroba dalam daging dan mempertahankan kualitas daging kurban.
Setelah mengalami kematian, terjadi proses yang disebut dengan rigor mortis atau kekakuan otot yang disebabkan oleh berhentinya suplai ATP (Adenosin Tri Phospat) yakni suatu molekul yang berfungsi sebagai sumber utama dalam sel. Dalam kondisi ini, otot mengeras karena jembatan silang aktin-myosin terkunci.
Proses selanjutnya adalah terjadinya Autolisis oleh Enzim Endogen dan di sinilah pengorbanan enzim mulai bekerja.
Enzim-enzim proteolitik seperti kathepsin dan kalpain, yang sebelumnya aktif dalam sel hidup, mulai mendegradasi protein otot. Proses ini disebut autolisis, yaitu pencernaan diri oleh enzim sendiri. Enzim ini menghancurkan jaringan otot dan ikat, menghasilkan daging yang lebih empuk dan lezat.
BACA JUGA:Yang Selamat dan Tinggal Nama di Tambang Gunung Kuda
Ada juga yang disebut sebagai Enzim protease bertanggung jawab dalam proses pelunakan daging (meat tenderization). Selama beberapa jam atau hari setelah penyembelihan, enzim bekerja memecah serabut otot dan jaringan ikat, sehingga tekstur daging menjadi lembut. Ini menunjukkan bahwa bahkan setelah hewan “berkorban”, sel-sel dalam tubuhnya, melalui aktivitas enzimatik, masih memberikan manfaat bagi manusia. Sebuah bentuk “pengorbanan enzimatis” yang terjadi tanpa henti, sebagai bentuk kelanjutan dari ibadah kurban yang diterjemahkan dalam manfaat biologis.
Penyembelihan hewan yang dilakukan secara syar’i membuat enzim endogen tetap aktif sesaat setelah kematian. Sebaliknya, penyembelihan yang tidak sesuai menyebabkan kematian mendadak (misalnya dengan setrum atau pukulan), yang membuat aktivitas enzim terganggu dan meningkatkan kadar asam laktat, menyebabkan daging cepat rusak.
Keberadaan enzim dalam proses autolisis juga akan membantu mencegah pembusukan dini dan menciptakan rasa khas daging. Di antara ciri-ciri daging yang thayyib adalah tidak keras atau alot, tidak cepat membusuk dan tidak berbau busuk. Hal ini sangat bergantung pada efisiensi enzim yang bekerja setelah penyembelihan. Bahkan dalam proses pengawetan daging (seperti fermentasi sosis, abon, dan dendeng), enzim dari mikroba juga berperan penting.
Banyak studi membuktikan bahwa penyembelihan hewan secara Islam memberikan hasil daging yang lebih baik. Penelitian oleh Rahman dkk. (2020) menunjukkan bahwa gen apoptosis bekerja lebih alami pada hewan yang disembelih secara syar’i. Penelitian lainnya (Toldrá, 2016) membuktikan enzim dalam otot bekerja lebih efisien dan membuat daging lebih empuk.
BACA JUGA:Menata Ulang Pembangunan Visi Poros Maritim Indonesia