Pancasila: Ideologi yang Hidup, Bukan Pajangan Upacara
Pengunjung mendengarkan penjelasan tentang sesaji (sajen) saat mengikuti lokakarya budaya di Pasewakan Warugajati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (31/5/2026). Kegiatan yang digelar oleh komunitas Iteung Gugat dalam rangka menyambut H-Abdan Syakura-ANTARA FOTO
Ekonomi yang Berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan hanya akan menciptakan kecemburuan sosial. Masyarakat Pancasila membutuhkan ekonomi yang memberi ruang hidup bagi semua, bukan hanya bagi pemilik modal besar.
Budaya Gotong Royong. Individualisme yang berlebihan akan melemahkan bangsa. Semangat gotong royong harus dihidupkan kembali, bukan sekadar slogan, tetapi menjadi praktik sosial sehari-hari.
Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diucapkan, melainkan oleh seberapa jauh ia diwujudkan.
Jika Pancasila hanya berhenti sebagai teks pidato, maka ia akan kehilangan ruhnya. Tetapi jika ia hidup dalam keadilan, keberanian moral, dan keberpihakan kepada rakyat, maka Pancasila akan tetap menjadi cahaya bagi Indonesia di tengah dunia yang semakin kehilangan arah.
Dirgahayu Pancasila. (antara)
Oleh: Rusmin Nuryadin, Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Setwapres