Pancasila: Ideologi yang Hidup, Bukan Pajangan Upacara
Pengunjung mendengarkan penjelasan tentang sesaji (sajen) saat mengikuti lokakarya budaya di Pasewakan Warugajati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (31/5/2026). Kegiatan yang digelar oleh komunitas Iteung Gugat dalam rangka menyambut H-Abdan Syakura-ANTARA FOTO
Bangsa ini terlalu sering melahirkan elite yang pandai berbicara tentang Pancasila tetapi gagal mempraktikkannya. Akibatnya, rakyat menjadi sinis terhadap kata-kata besar tentang kebangsaan.
Kader sejati Pancasila adalah mereka yang membuat rakyat merasakan kehadiran negara sebagai pelindung, bukan ancaman.
Memperkaya Pengertian Keadilan
Keadilan dalam Pancasila bukan sekadar pembagian ekonomi. Ia lebih luas: keadilan hukum, keadilan pendidikan, keadilan budaya, bahkan keadilan penghormatan terhadap martabat manusia.
Selama ini keadilan sering dipahami terlalu sempit, seolah hanya soal bantuan sosial atau pertumbuhan ekonomi. Padahal ketidakadilan juga terjadi ketika hukum tajam kepada rakyat kecil tetapi tumpul kepada penguasa. Ketidakadilan terjadi ketika anak desa memiliki peluang pendidikan jauh lebih kecil dibanding anak kota. Ketidakadilan terjadi ketika kekayaan alam daerah diambil, tetapi masyarakat setempat tetap miskin.
BACA JUGA:Memperkuat Policy Anchor Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global
Pancasila menolak dua ekstrem sekaligus yaitu Kapitalisme rakus yang membiarkan manusia kalah oleh modal dan Sosialisme otoriter yang mengorbankan kebebasan individu.
Pancasila menawarkan jalan tengah: kesejahteraan bersama yang tetap menghormati kemanusiaan dan kebebasan. Karena itu, memperkaya makna keadilan berarti memperjuangkan; akses pendidikan yang setara, pelayanan kesehatan yang manusiawi, hukum yang tidak diskriminatif dan distribusi ekonomi yang berkeadilan, serta ruang hidup yang layak bagi seluruh rakyat.
Keadilan dalam Pancasila bukan belas kasihan negara kepada rakyat. Ia adalah hak rakyat yang wajib diwujudkan negara.
Membangun perwujudan masyarakat Pancasila
Masyarakat Pancasila tidak lahir dari propaganda. Ia dibangun melalui budaya, pendidikan, keteladanan, dan keberanian politik.
Ciri utama masyarakat Pancasila adalah keseimbangan; religius tetapi toleran, modern tetapi berakar pada budaya, dan demokratis tetapi beretika serta kompetitif tetapi tetap bergotong royong.
Masyarakat Pancasila bukan masyarakat yang bebas konflik, melainkan masyarakat yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kehilangan kemanusiaan.
BACA JUGA:Adab Berpolitik Kaum Intelektual: Antara Moral, Kekuasaan, dan Pengkhianatan Akademik
Untuk mewujudkannya, ada beberapa syarat penting diantaranya:
Pendidikan yang Membebaskan. Pendidikan harus melahirkan manusia merdeka, kritis, dan berakhlak. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan hafalan Pancasila, tetapi harus membangun praktik kejujuran, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Keteladanan Pemimpin. Tidak ada pendidikan ideologi yang lebih kuat daripada contoh nyata. Ketika pemimpin hidup sederhana, adil, dan berpihak kepada rakyat, Pancasila menjadi nyata.