Pancasila: Ideologi yang Hidup, Bukan Pajangan Upacara
Pengunjung mendengarkan penjelasan tentang sesaji (sajen) saat mengikuti lokakarya budaya di Pasewakan Warugajati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (31/5/2026). Kegiatan yang digelar oleh komunitas Iteung Gugat dalam rangka menyambut H-Abdan Syakura-ANTARA FOTO
Dalam politik, kekuasaan harus dipahami sebagai amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya kelompok.
Dalam ekonomi, pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan pusat kekuatan modal.
Dalam pendidikan, sekolah harus membentuk karakter, bukan sekadar pencetak ijazah.
Dalam hukum, keadilan tidak boleh tunduk pada uang dan jabatan.
BACA JUGA:Menjaga Generasi Indonesia Lewat Spirit Kurban, Lebih dari Sekadar Ibadah
Dalam kehidupan sosial, perbedaan harus dipandang sebagai kekuatan bangsa, bukan ancaman.
Penghayatan Pancasila bukan pekerjaan seremonial. Ia membutuhkan keteladanan. Sebab rakyat lebih percaya pada tindakan daripada pidato.
Bangsa ini tidak kekurangan slogan kebangsaan. Yang kurang adalah keberanian moral untuk menjalankannya.
Kader Pembawa Misi Ideologi Pancasila
Setiap ideologi hanya akan hidup jika ada manusia yang memperjuangkannya. Karena itu, kader pembawa misi ideologi Pancasila tidak boleh direkrut hanya berdasarkan loyalitas politik atau kemampuan retorika.
Kader Pancasila harus dibentuk dari manusia yang memiliki tiga kualitas utama.
Pertama, integritas Moral. Mereka harus bersih dari mental korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ideologi akan mati di tangan orang yang menjadikannya alat kepentingan pribadi.
BACA JUGA:Memastikan Terlindunginya Konsumen Pinjol
Kedua, kecerdasan kebangsaan. Kader Pancasila harus memahami sejarah bangsa, tantangan global, serta dinamika sosial masyarakat. Nasionalisme tanpa wawasan hanya akan berubah menjadi fanatisme kosong.
Ketiga, keberpihakan kepada rakyat. Pancasila tidak boleh dibela hanya di ruang seminar, tetapi harus hadir di tengah penderitaan rakyat: kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, dan ketidakadilan.
Rekrutmen kader ideologi harus dilakukan melalui pendidikan karakter, pengabdian sosial, serta keteladanan nyata. Mereka bukan “penjaga simbol”, melainkan pelaku perubahan sosial.