Di Negeri Tahu-tempe, Kedelai Tak Mandiri
Produksi tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (7/4/2026), masih berlangsung normal meskipun terjadi lonjakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utamanya-Akhmad Nazaruddin Lathif-ANTARA
Penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen belum menjadi praktik yang luas. Pengelolaan air juga belum sepenuhnya terkendali, terutama pada lahan tadah hujan.
Dalam sistem seperti ini, tanaman kedelai tumbuh dalam kondisi yang jauh dari optimal, bertahan, tetapi tidak berkembang maksimal.
Bandingkan dengan negara-negara produsen utama dunia. Di sana, kedelai ditanam dalam skala luas dengan pendekatan pertanian presisi. Analisis tanah dilakukan secara rutin untuk menentukan kebutuhan hara secara spesifik. Pemupukan disesuaikan dengan kondisi lapangan, dan varietas yang digunakan dirancang untuk merespons input tinggi.
BACA JUGA:Matahari Penjaga Swasembada Pangan
Pengelolaan air dan waktu tanam diatur sedemikian rupa agar fase kritis tanaman berlangsung dalam kondisi lingkungan yang ideal. Hasilnya bukan hanya produksi yang tinggi, tetapi juga kualitas biji yang lebih baik—besar, seragam, dan bernilai ekonomi tinggi.
Solusi tanah
Lalu, apakah Indonesia tidak memiliki peluang untuk meningkatkan produksi kedelai? Tentu saja ada. Namun, pendekatannya tidak bisa sekadar meniru negara lain. Kita harus memahami bahwa kedelai yang kita tanam berada dalam sistem tanah tropis yang unik.
Perbaikan harus dimulai dari tanah. Peningkatan kandungan bahan organik melalui pengembalian sisa tanaman, penggunaan pupuk organik, dan praktik konservasi tanah menjadi langkah mendasar.
Pengapuran perlu dilakukan untuk menurunkan kemasaman tanah dan meningkatkan ketersediaan hara. Selain itu, penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen perlu didorong agar fungsi biologis tanah kembali optimal.
Pemuliaan varietas juga memegang peran penting. Indonesia membutuhkan varietas kedelai yang dirancang khusus untuk kondisi tropis, toleran terhadap tanah masam, mampu berproduksi baik pada radiasi yang lebih rendah, dan efisien dalam penggunaan hara. Varietas seperti ini tidak hanya akan meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas biji.
BACA JUGA:Perang AS–Israel dan Iran: Membaca Konflik Global melalui Lensa Sosiologi
Lebih jauh lagi, kedelai perlu ditempatkan dalam konteks sistem pertanian berkelanjutan. Sebagai tanaman leguminosa, kedelai memiliki kemampuan memperbaiki kesuburan tanah melalui penambahan nitrogen alami.
Jika dikelola dengan baik dalam pola rotasi tanaman, kedelai tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga meningkatkan kualitas tanah untuk tanaman berikutnya.
Pada akhirnya, persoalan kedelai adalah cermin dari cara kita memandang tanah. Selama tanah diperlakukan hanya sebagai media tanam, bukan sebagai sistem hidup yang kompleks, maka potensi produksi akan selalu terbatas.
Kedelai bukan sekadar biji. Ia adalah hasil dari interaksi panjang antara tanah, air, udara, dan kehidupan mikro yang tak terlihat. Ketika salah satu dari komponen ini tidak bekerja optimal, hasilnya pun tidak akan maksimal.
Di negeri tahu-tempe, tantangan kita bukan hanya menanam kedelai, tetapi memahami tanah tempat ia tumbuh. Karena di situlah sesungguhnya masa depan kemandirian pangan kita ditentukan. (antara)