Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Perang AS–Israel dan Iran: Membaca Konflik Global melalui Lensa Sosiologi

Ares Faujian, Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Belitung Timur dan Pengurus Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia-Ist-

BELITONGEKSPRES.COM - Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada tahun 2026 bukan sekadar perang militer biasa, melainkan fenomena sosial kompleks yang mencerminkan dinamika kekuasaan global, konstruksi identitas, serta pertarungan wacana ideologis. 

Dalam pusaran konflik ini, Timur Tengah seakan menjadi panggung api yang menari liar, memperlihatkan bagaimana ambisi kekuasaan dapat membakar batas-batas kemanusiaan.

Operasi militer besar-besaran yang dimulai pada akhir Februari 2026 dengan melibatkan ratusan serangan terhadap infrastruktur Iran, menjadi titik kulminasi dari ketegangan panjang. Ihwal ini terkait program nuklir, rivalitas geopolitik, hingga kegagalan diplomasi global. 

Konflik ini tidak hanya menyebabkan ribuan kematian dan kerusakan harta benda, tetapi juga mengganggu struktur sosial di seluruh dunia, seperti migrasi dan stabilitas politik. Termasuk penutupan Selat Hormuz, yang meningkatkan harga minyak dan mempengaruhi perekonomian beberapa negara di seluruh dunia. 

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai tanggapan atas konflik AS-Israel berdampak negatif pada ekonomi dunia. Ihwal ini karena diperkirakan menghentikan 20% pasokan minyak dan gas dunia. 

BACA JUGA:Dilema Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia

Ini menyebabkan kenaikan harga energi yang diproyeksikan lebih dari $ 100 per barel, gangguan pada rantai pasokan global, kenaikan biaya asuransi dan logistik, dan ancaman krisis pangan karena harga pupuk yang tinggi (Butler et al., 2026).

Sekali lagi, konflik AS-Israel dan Iran bukan hanya persoalan militer. Hal ini menyangkut juga konflik sebagai produk struktur, perihal identitas dan musuh bersama, hingga globalisasi konflik dalam sistem dunia yang dapat dibaca dengan berbagai teori sosiologi.

Konflik sebagai Produk Struktur (Teori Konflik – Karl Marx)

Dalam teori konflik, perang dapat dilihat sebagai hasil dari persaingan kekuasaan dan sumber daya antara aktor global. Sementara AS dan Israel bertindak sebagai blok kekuatan hegemonik, Iran bertindak sebagai kekuatan lawan yang berusaha mempertahankan kedaulatan dan kekuatan regional.

Ketegangan ini tidak muncul begitu saja. Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan dengan Barat diwarnai oleh perselisihan ideologis dan ekonomi, serta sanksi yang berkepanjangan yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Iran. 

Menurut logika Marxian, situasi ini menunjukkan ketimpangan struktural global yang mendorong konflik sebagai mekanisme untuk mengalihkan kekuasaan. Dalam kasus ini, perang berfungsi sebagai "alat politik" untuk mempertahankan atau menantang kekuasaan. 

Dalam teori konflik Karl Marx, perang dilihat bukan sekadar benturan negara, tetapi sebagai ekspresi dari pertentangan kelas dan kontradiksi dalam kapitalisme (khususnya pada tahap imperialisme). Untuk konflik AS–Israel dan Iran, kajian Marxis melihat perang sebagai bagian dari dinamika kapitalisme global, imperialisme, dan militerisme.

BACA JUGA:Dari Pilkada ke Penjara, Mahalnya Ongkos Politik Lokal di Indonesia

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan