Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Di Negeri Tahu-tempe, Kedelai Tak Mandiri

Produksi tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (7/4/2026), masih berlangsung normal meskipun terjadi lonjakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utamanya-Akhmad Nazaruddin Lathif-ANTARA

Di negara-negara produsen utama seperti Brazil dan Amerika Serikat, kondisi ini tersedia secara alami melalui pola musim yang jelas. Tanaman tumbuh dengan cukup air pada fase awal, lalu memasuki periode kering saat pembentukan biji. Energi matahari yang melimpah memungkinkan biji berkembang penuh, besar, dan seragam.

Sebaliknya, di Indonesia, fase pengisian biji sering berlangsung dalam kondisi lembap atau bahkan hujan. Radiasi matahari yang berkurang akibat tertutup awan membatasi produksi energi melalui fotosintesis.

Pada saat yang sama, kelebihan air dapat mengganggu respirasi akar dan memperlambat metabolisme tanaman. Hasilnya adalah pengisian biji yang tidak maksimal, biji terbentuk, tetapi tidak terisi penuh. Inilah salah satu alasan mengapa ukuran biji kedelai lokal cenderung lebih kecil.

Tanah masam

Namun, faktor iklim hanyalah sebagian dari persoalan. Kunci utama justru terletak pada tanah, komponen yang sering luput dari perhatian dalam kajian produksi pangan.

Sebagian besar tanah di Indonesia terbentuk melalui proses pelapukan yang sangat intensif dalam jangka waktu geologis yang panjang. Hujan tropis, yang terus-menerus mencuci unsur-unsur basa dari tanah, meninggalkan tanah yang cenderung masam dengan kandungan bahan organik yang relatif rendah.

BACA JUGA:Menakar Otoritas Tunggal Penghitung Kerugian Negara Pascaputusan MK

Selain itu, tanah-tanah ini didominasi oleh mineral liat aktivitas rendah serta oksida besi dan aluminium yang bersifat toksik untuk tanaman.

Dalam kondisi seperti ini, unsur hara penting seperti fosfor menjadi tidak tersedia karena terikat kuat (lebih dari 60 persen) oleh besi dan aluminium. Padahal, fosfor adalah unsur kunci dalam pembentukan energi (ATP) yang sangat dibutuhkan dalam proses pengisian biji.

Tanaman kedelai yang kekurangan fosfor tidak mampu mengisi bijinya secara optimal, meskipun secara kasatmata tampak tumbuh normal.

Kandungan bahan organik yang rendah juga menjadi masalah serius. Bahan organik berperan sebagai “penyimpan” air dan hara dalam tanah. Tanah yang miskin bahan organik cenderung tidak mampu menjaga kestabilan ketersediaan air dan nutrisi. Tanaman mengalami fluktuasi kondisi, kadang cukup, kadang kekurangan, yang pada akhirnya mempengaruhi hasil.

Kedelai sebenarnya memiliki keunggulan biologis yang luar biasa: kemampuannya mengikat nitrogen dari udara melalui simbiosis dengan bakteri pada akar. Dalam kondisi ideal, tanaman ini dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan nitrogen secara mandiri.

BACA JUGA:Harta Karun Karbon dari Tanaman Komoditas Unggulan yang Belum Tergarap

Namun kemampuan ini sangat bergantung pada kondisi tanah. Tanah yang terlalu masam atau miskin mikroorganisme efektif dapat menghambat aktivitas bakteri tersebut. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen, yang berperan penting dalam pembentukan protein dan pengisian biji.

Dengan kata lain, potensi biologis kedelai tidak sepenuhnya terwujud karena lingkungan tanah yang tidak mendukung.

Budidaya kecil

Di tingkat budidaya, tantangan ini diperbesar oleh struktur pertanian kita. Sebagian besar kedelai ditanam oleh petani kecil dengan keterbatasan modal dan akses teknologi. Pemupukan sering dilakukan secara umum tanpa mempertimbangkan kondisi spesifik tanah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan