Dilema Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia
Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan (kiri) menjenguk seorang personel penjaga perdamaian yang dirawat di Rumah Sakit St. George, Beirut, Lebanon, Sabtu (4/4/2026)-PMPP TNI via UNIC Indonesia-ANTARA
Betapa tidak. Ada keluarga yang menunggu di rumah, dengan harapan sederhana: sang kepala keluarga pulang dengan selamat. Ada anak yang mungkin belum sepenuhnya mengerti apa arti tugas ayahnya. Dan ada duka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Maka, ketika ada peti mati yang pulang ke Tanah Air, narasi besar tentang perdamaian mendadak terasa sangat personal. Kita tidak lagi bicara tentang geopolitik atau resolusi perdamaian. Kita bicara tentang manusia, tentang kehilangan, tentang sunyi yang ditinggalkan.
BACA JUGA:Prabowo Beri Hormat Terakhir untuk 3 Pahlawan Lebanon di Soekarno-Hatta
Indonesia, telah sejak lama memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif. Kita tidak berpihak, tapi tidak juga diam. Kita bergerak, tapi tidak agresif. Prinsip ini sering dianggap elegan dan bermartabat. Namun, dunia rupanya tidak selalu berjalan dalam logika yang sama.
Masalahnya, dunia kita, hari ini tidak selalu menghargai posisi seperti itu. Jujur saja, dunia makin bising, makin keras, dan sering kali tidak sabar dengan pendekatan yang terlalu halus.
Konflik tidak lagi menunggu mediasi yang panjang. Ia bergerak cepat, kadang tanpa logika yang jelas. Dan di situlah posisi netral malah menjadi rawan.
Di situlah letak dilemanya. Indonesia ingin menjadi penenang, tapi dunia sendiri agaknya sedang tidak ingin ditenangkan. Kita menawarkan dialog, sementara yang lain memilih tekanan.
Kita membawa pesan damai, sementara di lapangan, suara letupan senjata lebih dominan. Ini bukan sekadar perbedaan pendekatan, tapi benturan cara pandang.
Konflik modern sekarang ini cenderung tidak lagi tunduk sepenuhnya pada aturan. Aktor non-negara, milisi, dan kepentingan tersembunyi membuat garis antara kawan dan lawan menjadi kabur.
BACA JUGA:Dari Pilkada ke Penjara, Mahalnya Ongkos Politik Lokal di Indonesia
Tidak semua pihak merasa terikat pada hukum internasional. Bahkan, ada yang justru mengabaikannya secara terang-terangan. Situasi seperti ini membuat medan konflik kian tidak terprediksi.
Dalam situasi seperti itu, pasukan penjaga perdamaian sering kali berada di posisi paling rentan. Mereka netral, tapi justru karena itu, mereka malah mudah menjadi sasaran. Mereka tidak datang untuk menyerang, tapi tetap bisa diserang. Dan ini merupakan ironi yang terus berulang dalam banyak konflik.
Kepentingan dan kekuatan
Pakar hubungan internasional Hans Morgenthau, pernah menyatakan bahwa politik internasional pada dasarnya adalah soal kekuasaan. Dalam kacamata Morgenthau, moralitas penting, tapi itu tidak cukup. Pasalnya, negara tetap bergerak berdasarkan kepentingan dan kekuatan.
Pandangan Morgenthau tersebut tampaknya relevan di tengah situasi dunia sekarang ini. Faktanya, dalam banyak kasus, yang didengar bukan yang paling benar, tapi yang paling kuat. Realitas ini sering kali tidak nyaman untuk diakui. Tapi, mengabaikannya justru bisa membuat kita lengah.