Antara Rem Darurat dan Pembatasan Ekspresi Digital pada Medsos Anak
Sejumlah platform digital yang termasuk kategori beresiko tinggi bagi anak--Antara-Gemini Generated Image
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan survei literasi digital 2025, sekitar 39,7 persen anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan gawai, sementara penetrasi penggunaan internet pada Generasi Z mencapai 87 persen.
Di wilayah tertinggal atau kawasan 3T, anak usia 13–14 tahun, bahkan dilaporkan memiliki tingkat kecanduan media sosial yang lebih tinggi karena minimnya alternatif hiburan di dunia nyata.
Efektivitas Permen Komdigi ini sangat bergantung pada apa yang dapat disebut sebagai "segitiga pengawasan".
Tiga elemen utama tersebut adalah ketegasan pemerintah dalam menegakkan regulasi, kepatuhan teknis platform digital, serta kemampuan orang tua dalam memahami dan mengawasi aktivitas digital anak.
Jika salah satu unsur tersebut tidak berjalan optimal, anak-anak tetap berpotensi menemukan celah untuk mengakses ruang digital yang berisiko.
BACA JUGA:Timur Tengah di Titik Panas Baru
Secara regulatif, pemerintah sebenarnya telah menyiapkan mekanisme sanksi yang cukup jelas dalam PP Nomor 17 Tahun 2025.
Sanksi tersebut meliputi teguran tertulis, denda administratif, penghentian sementara layanan, hingga pemutusan akses terhadap penyelenggara sistem elektronik yang tidak mematuhi ketentuan.
Di sisi lain, implementasi kebijakan ini juga memerlukan pendekatan edukatif melalui peningkatan literasi digital di lingkungan pendidikan dan keluarga.
Ekosistem digital anak
Dalam praktiknya, anak di bawah usia 16 tahun berada pada fase perkembangan psikologis yang sangat penting.
Kelompok usia ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Kelompok usia 13–15 tahun yang umumnya berada di tingkat SMP merupakan pengguna media sosial paling aktif dan sekaligus kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif ruang digital.
BACA JUGA:Relaksasi Kredit Bank Bantu Nasabah Bangkit dari Bencana Sumatra
Pada usia tersebut, tekanan teman sebaya untuk aktif di media sosial sangat tinggi.
Dalam ekosistem digital anak Indonesia, saat ini, sejumlah platform memiliki peran berbeda.