Algoritma Kebangsaan dan Agen Perubahan di Era Digital
Ilusterasi -AI-ddn
Indonesia Emas 2045 bukan hanya proyek ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga proyek narasi. Masa depan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan bangsa tersebut untuk mempercayai dirinya sendiri.
Dalam teori Benedict Anderson, bangsa adalah "komunitas yang dibayangkan" melalui narasi bersama. Jika narasi bersama itu dipenuhi oleh pesimisme, maka masa depan bangsa akan rapuh. Sebaliknya, jika narasi bersama itu dipenuhi oleh optimisme dan kepercayaan diri, maka bangsa tersebut akan memiliki daya tahan yang kuat.
BACA JUGA:Reformasi Polri Bukan Soal Reposisi
Di sinilah algoritma kebangsaan menjadi penting. Ia adalah mekanisme untuk memastikan bahwa narasi tentang Indonesia di ruang digital adalah narasi yang memperkuat, bukan melemahkan; narasi yang mempersatukan, bukan memecah belah.
Mengikuti Program PPNK Lemhannas RI bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi pengalaman eksistensial. Ia mengingatkan bahwa kebangsaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang harus terus diproduksi, direproduksi, dan diperjuangkan.
Dalam era digital, perjuangan itu tidak lagi hanya dilakukan di medan fisik, tetapi juga di medan algoritmik.
Setiap peserta PPNK, setiap intelektual, setiap birokrat, setiap warga negara, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa wilayah digital menjadi ruang produksi kesadaran kebangsaan. Bahwa algoritma tidak hanya memproduksi sensasi, tetapi juga memproduksi kesadaran.
Hal ini juga membawa pesan bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh algoritma global semata, tetapi oleh kesadaran kolektif bangsa Indonesia sendiri.
Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir secara otomatis. Ia harus diperjuangkan, tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui narasi. Dan narasi itu, hari ini, dipertarungkan di ruang algoritma. (ant)
Oleh: Bustomi
Pengurus LTN PWNU Jatim dan peserta PPNK Angkatan 224 Lemhannas RI Tahun 2026