Ketika Iklim Menjadi Risiko Ekonomi, Alarm Bagi Indonesia
Warga berjalan menerobos banjir di kawasan Jalan NIS, Cilandak Timur, Jakarta, Senin (12/1/2026)--(Antara)
Sebaliknya, jika Indonesia mampu menyelaraskan strategi pembangunan dengan ekonomi rendah karbon dan adaptasi iklim, peluangnya sangat besar. Energi terbarukan, bioekonomi, dan perlindungan ekosistem dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil dan inklusif.
Pada akhirnya, perubahan iklim tidak bisa dinegosiasikan seperti pasal dalam perjanjian internasional. Banjir di Sumatera, gagal panen, dan kenaikan biaya asuransi adalah “pesan pasar” yang semakin keras. Politik boleh buntu, tetapi ekonomi dan alam terus berjalan.
Pilihannya sederhana, namun mahal, yaitu beradaptasi sekarang dengan biaya yang terukur, atau menunda dan membayar jauh lebih mahal di kemudian hari. Bagi Indonesia, keputusan ini akan menentukan kualitas pertumbuhan dan ketahanan ekonomi dalam dekade-dekade mendatang.
*) Dr Aswin Rivai adalah pemerhati ekonomi lingkungan dan dosen FEB-UPN Veteran, Jakarta