Belajar Lewat Bermain, Memperluas Ruang Tumbuh Anak Indonesia
Ilustrasi pendampingan playful learning pada anak-anak rentan-OREO-ANTARA
“OREO percaya bahwa suasana belajar yang seru dan menyenangkan merupakan salah satu kunci untuk menumbuhkan motivasi anak, sehingga mereka bisa menyerap materi lebih cepat," kata Anggya Kumala.
Hal ini sejalan dengan tujuan brand OREO, yakni terus menciptakan momen kebersamaan yang seru. Mereka juga menyalurkan perangkat keras seperti laptop dan tas sekolah sebagai bentuk dukungan pembelajaran menyeluruh bagi anak agar mereka berani mewujudkan mimpi dengan penuh keceriaan.
Inisiatif itu mendapat sambutan baik dari pemerintah karena sejalan dengan fokus Kemendikdasmen untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak di bidang pendidikan.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen pihak swasta," kata Vivi.
Menurut dia, inisiatif ini sejalan dengan fokus Kemendikdasmen untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak di bidang pendidikan melalui partisipasi semesta.
Co-Director Kitabisa.org Marisa Thara Wardhani menilai pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengalaman belajar anak.
BACA JUGA:KN Ganesha, 'Dewa Rakyat' untuk Operasi SAR Sumatera
Hal senada disampaikan oleh Sahabat Yatim yang melihat bahwa alat bantu belajar berbasis permainan mampu menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri anak.
"Sebagai pendamping yang berinteraksi setiap hari dengan anak-anak, kami menyaksikan langsung bagaimana perhatian sekecil apa pun mampu menumbuhkan kebahagiaan bagi anak-anak," kata Muhammad Umar Wirayuda selaku Manager Jaringan & Relawan dari Sahabat Yatim.
Menurut dia, dukungan ini sangat berarti untuk meyakinkan anak-anak kami bahwa mereka tidak berjuang sendirian dalam meraih cita-cita.
Ekosistem belajar yang inklusif
Sejak Maret 2025, program "OREO Berbagi Serunya Berilmu” telah menjangkau lebih dari 1.500 anak yatim piatu di berbagai daerah. Program dianggap mencerminkan peran kolektif banyak pihak dalam memperluas akses pendidikan yang lebih inklusif. Dukungan tersebut tidak hanya datang dari penyelenggara program dan mitra pelaksana, tetapi juga dari partisipasi publik yang memungkinkan inisiatif ini berjalan secara konsisten.
BACA JUGA:Ketika Listrik Gantikan Letih Para Penarik Becak Lansia
“Kami percaya bahwa dukungan terhadap pendidikan, terutama bagi anak-anak yatim piatu adalah investasi strategis untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan,” kata Anggya.
Meski demikian, alat bantu belajar saja tidak cukup. Diperlukan pendampingan pendidik yang memahami prinsip perkembangan anak agar playful learning dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang terencana antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan sektor swasta, playful learning berpotensi menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Pendidikan tidak lagi semata-mata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada tumbuh kembang anak secara utuh; kognitif, emosional, dan sosial.