Belajar Lewat Bermain, Memperluas Ruang Tumbuh Anak Indonesia
Ilustrasi pendampingan playful learning pada anak-anak rentan-OREO-ANTARA
“Dalam bermain bersama, anak belajar menunggu giliran, berbagi peran, dan bekerja sama. Ini menjadi dasar penting bagi kematangan emosional anak di kemudian hari,” ujar Intan.
BACA JUGA:Masa Kanak-kanak di Era AI: Antara Harapan dan Ancaman
Permainan peran atau role play dinilai sangat efektif karena menggabungkan berbagai aspek pembelajaran. Anak bisa belajar berhitung, membaca, menulis, dan berkomunikasi melalui skenario permainan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Playful learning dan anak rentan
Pendekatan belajar sambil bermain juga memiliki peran penting bagi anak-anak yang menghadapi hambatan emosional, termasuk anak yatim piatu. Dalam praktik psikologi, bermain kerap digunakan sebagai media terapi untuk membantu anak mengekspresikan emosi.
“Bermain menjadi jembatan emosional. Anak bisa mengekspresikan marah, sedih, atau takut tanpa harus menggunakan kata-kata,” kata Intan.
Lingkungan belajar yang ceria dan suportif membantu menurunkan kecemasan belajar serta membangun kembali rasa percaya diri anak. Oleh karena itu, playful learning dinilai penting untuk diprioritaskan pada kelompok anak rentan, di mana pemulihan emosional perlu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan akademik.
Kolaborasi lintas sektor
Upaya memperluas akses terhadap playful learning membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan penguatan kapasitas pendidik, sementara sektor swasta dan komunitas dapat mendukung melalui penyediaan alat bantu belajar dan program sosial yang menjangkau kelompok rentan.
BACA JUGA:Saat Pejabat Menjelma Jadi Idola Masyarakat
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Vivi Andriani menekankan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
Menurut dia, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci untuk memperkuat pemenuhan hak dasar anak di bidang pendidikan.
"Kami berharap kolaborasi dan partisipasi berbagai pihak dapat terus diperluas, sehingga semakin banyak anak Indonesia yang dapat tumbuh, belajar, dan mewujudkan mimpinya, kata Vivi.
Di sisi lain, keterlibatan sektor swasta melalui program sosial dinilai dapat membantu menjembatani kesenjangan akses, terutama bagi anak-anak yang berada di luar jangkauan layanan pendidikan formal yang memadai.
Salah satu contoh kolaborasi tersebut terlihat melalui program “OREO Berbagi Serunya Berilmu”, yang memanfaatkan pendekatan playful learning dalam penyaluran donasi alat bantu pembelajaran kepada anak-anak yatim piatu. Program ini menggandeng berbagai mitra, termasuk Kitabisa.org dan Sahabat Yatim, untuk menjangkau anak-anak di berbagai wilayah Indonesia.
Anggya Kumala selaku Marketing Director Mondelez Indonesia menjelaskan bahwa melalui program ini, mereka memberikan donasi berupa alat bantu belajar yang mendukung playful learning untuk membantu menciptakan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan bagi anak.
BACA JUGA:Mencari Titik Balik Ketahanan Ekologis Pembangunan