Restrukturisasi Utang Whoosh dan Pergeseran Kerja Sama Infrastruktur
Calon penumpang Kereta Cepat Whoosh berfoto dengan latar belakang bendera Merah Putih di Peron Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta Timur, Minggu (17/8/2025). PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memberikan souvenir kepada penumpang dan membentangkan ben-Fakhri Hermansyah-ANTARA FOTO
Kritik yang mengatakan Indonesia “tidak perlu kereta cepat” mencerminkan pandangan paternalistik. Namun, hak untuk berkembang tidak berarti mengabaikan realitas: proyek kompleks seperti kereta cepat memerlukan perencanaan matang, institusi yang efisien, dan pasar yang siap.
Tekanan keuangan yang dihadapi saat ini adalah biaya belajar dari proses modernisasi, bukan kegagalan arah pembangunan.
Jika Indonesia dapat menjadikan pengalaman Whoosh sebagai pelajaran untuk memperkuat perencanaan, pelaksanaan, dan operasi proyek besar secara sistemik, maka biaya jangka pendek ini akan menjadi investasi jangka panjang yang berharga.
BACA JUGA:Menjaga Nurani di Balik Seragam: Tragedi Brigadir Nurhadi dan Ujian Moral Polri
Tekanan keuangan proyek Whoosh bukanlah akhir, melainkan proses penyesuaian penting dalam pendalaman kerja sama infrastruktur Tiongkok – Asia Tenggara. Ia mengingatkan kita bahwa proyek besar bukan hanya urusan teknik, melainkan sistem kompleks yang melibatkan perencanaan, pembiayaan, operasi, dan dampak sosial.
Secara makro, proyek Whoosh adalah simbol transisi Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) dari tahap idealisme menuju kedewasaan. Di fase awal, semangat tinggi sering kali disertai kekurangan pengalaman; kini, dengan pengalaman hampir satu dekade, kerja sama Tiongkok dan mitranya menjadi lebih pragmatis, hati-hati, dan profesional.
Dimulainya negosiasi restrukturisasi utang justru menjadi bukti kedewasaan itu —tanpa saling menyalahkan, kedua pihak duduk bersama mencari solusi. Jika dari proses ini lahir mekanisme kerja sama baru yang lebih efektif, maka Rp115 triliun investasi itu bukanlah beban, melainkan biaya pembelajaran menuju kemitraan yang lebih matang.
Tidak ada jalan menuju kemakmuran yang benar-benar lurus dan mulus. Yang penting bukan menghindari semua kegagalan, tetapi kemampuan untuk belajar dari setiap tantangan, mengubah pengalaman menjadi kebijakan, dan kesalahan menjadi kemajuan.
Dalam arti ini, kisah Whoosh belum berakhir. Bab-bab berikutnya tentang restrukturisasi utang, efisiensi operasi, dan penerapan TOD, justru akan menjadi bagian yang paling menarik. (ant)
Oleh: Pan Yue Ph.D,
Associate Research Fellow, School of International Relations, Academy of Overseas Chinese Studies, Jinan University