Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ilmu Tanah dalam Lensa Geografi Bagi Lingkungan dan Manusia

Ilustrasi - Foto udara petani menggarap sawah di kawasan kaki Gunung Marapi, Nagari Pariangan, Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (19/8/2025). Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi beras nasional hingga September 2025 surplus sebanyak 4,86 juta t-Iggoy el Fitra/nym-ANTARA FOTO

Dengan berbagai alasan di atas, penulis kemudian menawarkan definisi baru ilmu tanah dengan perspektif geografi.

“Ilmu tanah adalah studi tentang sistem tanah yang bervariasi secara spasial dan dinamis secara temporal di Bumi dan planet lain, dengan memanfaatkan teori, prinsip geografi, dan teknologi canggih untuk memahami pembentukan, distribusi, sifat, dan fungsinya.”

BACA JUGA:Indonesia Darurat Judi Online!

Definisi baru tersebut mengajak masyarakat melihat tanah bukan hanya sebagai media tanam, tetapi sebagai bagian integral dari sistem bumi yang kompleks. Dengan sudut pandang ini, pengelolaan tanah dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan, mendukung mitigasi perubahan iklim, serta meningkatkan kesejahteraan manusia.

Bagi Indonesia, pemahaman baru ini sangat penting. Negara kepulauan tropis memiliki keragaman tanah luar biasa, mulai dari tanah vulkanik yang subur hingga tanah gambut dan tanah sulfat masam di lahan rawa.

Di sisi lain Indonesia juga memiliki tantangan beragam seperti degradasi tanah, erosi, dan konversi lahan yang terus mengancam ketahanan pangan nasional.

Dengan mengintegrasikan perspektif geografi dan teknologi, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih efektif, seperti zonasi pertanian berbasis potensi tanah, pengelolaan daerah aliran sungai untuk mencegah banjir dan longsor, pemulihan lahan kritis dengan pendekatan ilmiah, serta perencanaan kota yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Kolaborasi

Tentu dengan perkembangan tersebut kolaborasi lintas disiplin menjadi semakin penting mulai dari ahli geografi, ekologi, hingga kebijakan publik.

BACA JUGA:Berapa Persentase Ideal Cadangan Beras Pemerintah?

Partisipasi masyarakat dapat menjadi faktor penting dengan pemetaan tanah berbasis warga atau citizen science yang melibatkan pengetahuan lokal.

Di level global ilmu tanah tidak hanya berkembang di fakultas pertanian, namun juga dipelajari di fakultas-fakultas lingkungan, geografi, dan teknik dengan berbagai pendekatan.

Di sisi lain, di Indonesia para ahli tanah dari fakultas pertanian di berbagai perguruan tinggi juga meningkatkan semakin memperkaya keahliannya dengan menjadi ahli lingkungan yang diakui kepakarannya oleh banyak pihak.

Kolaborasi antar-pelaku keilmuan bidang tanah menjadi dasar kuat menyuarakan pentingnya aspek tanah untuk menjadi dasar pengambilan kebijakan di berbagai bidang termasuk ketanahan pangan, ketahanan air, dan yang paling mendesak, mitigasi perubahan iklim.

Dengan pendekatan ini, ilmu tanah dapat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga sumber daya ini.

Melihat tanah sebagai bagian dari ekosistem yang dinamis membuat masyarakat lebih menghargai perannya dalam menjaga keseimbangan bumi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan