Museum Kayu Tuah Himba, Menyingkap Wasiat Hutan Kalimantan
Tampak depan Museum Kayu Tuah Himba, Tenggarong-Ahmad Rifandi-ANTARA
BACA JUGA:Hari Bhayangkara: Harapan Baru Reformasi Polri
Mayoritas koleksi, tentu saja, berfokus pada kayu, dengan sekitar 305 jenis kayu, 250 jenis herbarium (spesimen tumbuhan kering yang diawetkan), 105 jenis arboritum (spesimen pohon yang diawetkan), dan 50 jenis rotan.
Tak hanya kayu dan tumbuhan, museum ini juga memamerkan hasil olahan kayu dan artefak budaya lokal, seperti 35 jenis olahan dari kayu, 12 jenis peralatan dapur tradisional, 17 jenis alat musik, dan 12 jenis alat tangkap ikan tradisional.
Di antara koleksi kayu dan artefak yang artistik, perhatian pengunjung seringkali tertuju pada sebuah koleksi yang paling mencolok dan punya unsur misteri, buaya Sangatta. Buaya raksasa yang diawetkan ini memiliki cerita yang menjadi legenda lokal.
Buaya Sangatta hidup di di daerah rawa-rawa yang bermuara ke laut atau air payau, sebagaimana narasi yang tertera di dekat awetan buaya. Buaya itu ditangkap pada 8 Maret 1996 setelah memangsa seorang wanita bernama Hairani (35 tahun), yang tinggal di daerah Sungai Kenyamukan, Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.
BACA JUGA:Mengabadikan Peninggalan Budaya Tulis Lampung Kuno di Era Digital
Buaya ini saat ditangkap memiliki panjang 6,8 meter dan berat 850 kilogram. Kemudian lingkar perut 1,8 meter serta berjenis kelamin jantan dan berumur sekitar 70 tahun. Selain buaya Sangatta, tepat di sampingnya juga dipamerkan buaya Muara Badak yang diawetkan. Ukurannya juga tampak besar namun lebih kecil dari buaya Sangatta.
Melindungi warisan terancam
Museum Kayu Tuah Himba bukan hanya tentang pameran, melainkan sebuah pusat edukasi dan konservasi. Tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya hutan dan keanekaragaman hayati Kalimantan.
Di museum ini, pengunjung dapat melihat berbagai jenis kayu, mulai dari yang masih lestari hingga yang sudah langka. "Kayu-kayu yang dipamerkan ini, sebagian masih ada dan ada juga yang sudah hampir punah," kata Samiudin.
Visualisasi tentang hutan dan konservasi juga ditampilkan melalui video-video edukasi pada layar yang dipajang di museum. Ini sebagai bentuk komitmen museum untuk tidak hanya memamerkan, tetapi juga menginspirasi kesadaran lingkungan.
Museum ini berada di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan, Bidang Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
BACA JUGA:Tahun Baru Islam Momentum Perkuat Ekonomi Berbasis Syariah
Museum Kayu Tuah Himba adalah sebuah monumen. Monumen peringatan atas kerentanan hutan Kalimantan, sekaligus monumen harapan akan masa depan yang lebih lestari. Di setiap serat kayu yang terpampang, di setiap awetan hewan yang membisu, dan di setiap artefak yang bercerita, terkandung wasiat tentang menjaga hutan, sebab hutan adalah jantung kehidupan.
Museum Kayu Tuah Himba juga memamerkan koleksi kayu berkhasiat yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat Kutai Kartanegara, khususnya suku Dayak pedalaman.
Sumber pemanfaatan tumbuhan sebagai obat herbal ini sangatlah kaya, terbukti dari data yang dihimpun: suku Dayak Apo Kayan memanfaatkan sekitar 213 jenis tumbuhan atau kayu, sementara suku Dayak Benuaq menggunakan sekitar 301 jenis.