Hari Bumi 2025: Refleksi Terhadap Pertanian Berkelanjutan
Ilustrasi urban farming, gerakan yang berkontribusi dalam ketahanan pangan dan pengurangan emisi karbon di lahan sempit-- (Foto: ANTARA/Anita Permata Dewi)
Untuk mencapai kedaulatan pangan yang berkelanjutan, inovasi teknologi pertanian juga perlu dikembangkan. Hasil penelitian IPB dan Badan Litbang Pertanian (saat ini Badan Perakitan dan Modernisasi) Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa penggunaan varietas padi tahan kekeringan dan sistem irigasi berbasis tenaga surya dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Penerapan teknologi ramah lingkungan ini memungkinkan peningkatan produksi tanpa merusak lingkungan. Dengan demikian, pertanian modern dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjaga kelestarian bumi bagi generasi mendatang.
BACA JUGA:Digitalisasi Dukung Kepastian Petani Dapat Pupuk Bersubsidi
Pertanian Berkelanjutan
Selama ini, sektor pertanian kerap dianggap sebagai biang keladi deforestasi di Indonesia. Namun, asumsi tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Data dari Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menunjukkan bahwa kontribusi kelapa sawit terhadap deforestasi global akibat komoditas pertanian hanya sekitar 2 persen.
Angka ini menegaskan bahwa penyebab deforestasi jauh lebih kompleks, mencakup praktik perizinan lahan, ekspansi infrastruktur, dan eksploitasi tambang yang belum terkendali. Oleh karena itu, menyalahkan sektor pertanian secara sepihak justru menutup ruang bagi pembenahan sistemik yang lebih luas.
Faktanya, banyak pelaku pertanian di Indonesia telah menerapkan pendekatan yang harmonis dengan alam. Di Sumatra Barat, misalnya, petani kopi di Lintau Buo mempraktikkan agroforestri dengan menanam pohon kayu manis dan alpukat di sela-sela kebun kopi mereka. Metode ini tidak hanya meningkatkan keanekaragaman hayati, tetapi juga menambah sumber pendapatan petani.
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur, praktik tambarangan, penggunaan mulsa alami dari jerami, terbukti mampu mengurangi erosi tanah hingga 40%. Inisiatif semacam ini menunjukkan bahwa pertanian dapat menjadi solusi, bukan ancaman, bagi keberlanjutan ekosistem.
Keberhasilan berbagai praktik lokal ini tidak lepas dari perpaduan antara kearifan tradisional dan inovasi teknologi. Saat ini, teknologi seperti drone untuk pemantauan kesehatan tanaman, pemetaan lahan berbasis kecerdasan buatan, serta pemanfaatan limbah pertanian untuk biogas mulai diterapkan di sejumlah wilayah. Inovasi-inovasi ini memperkuat posisi pertanian sebagai sektor yang adaptif terhadap tantangan iklim dan lingkungan.
BACA JUGA:Sawah Pokok Murah ala Djoni untuk Kesejahteraan Petani
Kuncinya adalah bagaimana pendekatan tersebut mendapat dukungan yang memadai dari sisi kebijakan, riset, dan edukasi. Kebijakan yang mendukung riset pertanian berkelanjutan, pemberian subsidi untuk teknologi hijau, serta pelatihan adaptasi iklim bagi petani adalah langkah strategis yang perlu diperluas.
Peringatan Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap transformasi ini.
Pertanian untuk Bumi
Menyambut Hari Bumi 2025, ini saatnya seluruh elemen bangsa menyatukan langkah menjaga keberlanjutan Bumi. Sektor pertanian, sebagai tulang punggung pangan nasional, harus menjadi garda terdepan dalam agenda ekologis.