Gerakan #MeToo: Dari Media Sosial ke Perubahan Sosial
Ilustrasi kekerasan seksual--(ANTARA/HO)
Poin penting dalam model Nemeth adalah bahwa pengaruh minoritas tidak bergantung pada kebenaran dari solusi yang diajukan, melainkan pada efek yang dihasilkan. Dalam kasus #MeToo, meskipun tidak mengajukan solusi yang sempurna, dampak positifnya adalah kemampuannya untuk mengintervensi kondisi sebelumnya dan membuka ruang untuk pemikiran baru.
Model ini juga menunjukkan pentingnya genuine dissent dalam memicu divergent thought. #MeToo, sebagai gerakan yang lahir dari pengalaman pribadi dan kekuatan narasi penyintas membawa genuine dissent. #MeToo adalah sebuah seruan nyata dari mereka yang tidak didengarkan, yang mendorong masyarakat untuk memikirkan kembali mengenai kekerasan seksual.
Gerakan yang Tak Selesai
#MeToo sebagai gerakan dari kelompok minoritas telah mengubah kebijakan di tempat kerja, industri hiburan, dan institusi pendidikan yang mulai memperketat aturan terkait pelecehan seksual dan memberikan lebih banyak dukungan untuk penyintas. Tokoh publik seperti Harvey Weinstein juga menghadapi konsekuensi hukum berkat gerakan ini.
BACA JUGA:AI: Praktek dan RUU Penyiaran
Pada akhirnya, #MeToo bukan sekadar tren media sosial. Gerakan ini merupakan representasi dari perjuangan kolektif yang mendalam dan penuh risiko, yang membawa suara-suara yang selama ini dibungkam ke ruang publik. Gerakan ini memperlihatkan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari pengalaman individu yang divalidasi dalam solidaritas.
Jika perubahan sosial memang lambat dan tidak langsung seperti yang dijelaskan Moscovici dan Nemeth, maka kekuatan minoritas harus terus hadir sebagai pengganggu konsensus palsu. Dalam dunia yang terlalu sering membungkam kebenaran demi kenyamanan, suara penyintas mungkin adalah bentuk pembangkangan yang paling jujur dan paling radikal.
Kasus Priguna bukan sekadar potret individual tentang penyalahgunaan kuasa, melainkan cerminan kegagalan sistem untuk melindungi kelompok rentan. Dalam lanskap sosial yang cenderung pasif dengan kekerasan seksual, #MeToo adalah pengingat bahwa perubahan tak datang dari diam, melainkan dari keberanian untuk bersuara, meskipun itu datang dari luka.
*) Tuningsih Haryati adalah mahasiswa Magister Psikologi Sains Sosial Universitas Indonesia.